Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyiagakan tim khusus Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, Mina, sejak Rabu (27/5), guna memperkuat perlindungan, memberikan pertolongan pertama, serta mengurai kepadatan jemaah haji Indonesia selama fase lontar jumrah pada hari Tasyrik.
Pengamanan ketat di titik krusial ini diluncurkan tepat ketika arus jemaah mulai memadati area Jamarat pascaproses mabit di Muzdalifah dan Mina, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
Langkah taktis ini melibatkan personel gabungan dari unsur Perlindungan Jemaah (Linjam) serta Pelaksana Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PPKPJH). Guna mempercepat respons kedaruratan medis maupun evakuasi, para petugas tersebut disebar di jalur Jamarat lantai satu dan lantai tiga.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan posisi vital tim khusus ini dalam mengawal pergerakan jemaah di lokasi-lokasi yang rawan kepadatan.
ÔÇ£MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,ÔÇØ ujar Maria, Kamis (28/5).
Penempatan petugas secara langsung di lapangan bertujuan mempermudah pengawasan situasi secara aktual. Pola penanganan ini terbukti efektif saat petugas MCR langsung bergerak cepat membantu sejumlah jemaah yang kedapatan mengalami kelelahan akut hingga terpisah dari kelompok terbang mereka.
ÔÇ£MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,ÔÇØ jelas Maria.
Penguatan operasional MCR menjadi bagian dari strategi Kemenhaj agar manajemen krisis di lapangan dapat berjalan secara terkoordinasi dan cepat. Kebijakan proaktif tersebut diambil demi mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang aman, tertib, serta ramah terhadap lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan.
ÔÇ£Keberadaan MCR, lanjut Maria, merupakan bagian dari ikhtiar Kemenhaj untuk memastikan seluruh dinamika di lapangan dapat tertangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Langkah proaktif ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan penyelenggaraan ibadah haji yang aman, tertib, serta inklusif bagi lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan,ÔÇØ kata Maria.
Sebelumnya, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga telah memetakan penempatan petugas di lima titik krusial sepanjang jalur Mina. Sementara itu, Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak sempat mengingatkan para jemaah untuk mempersiapkan fisik prima mengingat rute Mina-Jamarat untuk Nafar Tsani dapat mencapai jarak 28 kilometer.