Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna Demi Kelancaran Puncak Haji 2026

Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna Demi Kelancaran Puncak Haji 2026
Foto: Ilustrasi Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna Demi Kelancaran Puncak Haji 2026.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) membentuk Satuan Operasional khusus untuk memitigasi risiko kepadatan jutaan jemaah yang bergerak bersamaan mulai Senin, 25 Mei 2026. Langkah ini diambil guna memperkuat kesiapan fase puncak ibadah haji 1447 H/2026 M di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Penguatan fase krusial ini dilansir dari Media Indonesia, di mana pergerakan massa dalam jumlah besar di area terbatas menjadi tantangan utama. Berdasarkan data operasional hari ke-29, sebanyak 182.332 jemaah dari 472 kloter telah sampai di Mekah untuk bersiap menghadapi puncak haji.

Pemberangkatan jemaah menuju Arafah dijadwalkan dalam tiga gelombang mulai pukul 06.00, 11.30, dan 17.30 Waktu Arab Saudi (WAS) agar seluruh jemaah tiba sebelum tengah malam. Kemenhaj juga menerapkan skema melintas tanpa turun atau murur di Muzdalifah untuk mengurai kepadatan, sementara jemaah reguler bergerak ke Mina mulai pukul 23.00 WAS.

Kesiapan logistik juga terus dimatangkan dengan penyediaan makanan siap santap (RTE) selama fase Armuzna yang higienis dan mengandung minimal 50 persen bahan baku asli Indonesia. Di samping itu, Kepala Bidang Satuan Operasi (Kasatops) Armuzna PPIH Arab Saudi 2026, Surnadi, mengonfirmasi bahwa progres persiapan puncak haji 2026 kini telah mencapai 95 persen.

Mobilisasi massa ini memerlukan manajemen pergerakan yang ketat demi menjaga keselamatan jemaah selama berada di kawasan suci. Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, memberikan penjelasan mengenai pentingnya pengelolaan pergerakan jemaah tersebut di Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026.

"Pengaturan mobilitas, disiplin jadwal, kepatuhan terhadap arahan petugas, dan kesiapan fisik jemaah haji 2026 menjadi sangat penting. Kemenhaj telah membentuk Satuan Operasional Armuzna untuk memastikan pergerakan jemaah berjalan bertahap, terukur, dan berbasis mitigasi kepadatan," ujar Maria Assegaff, Juru Bicara Kemenhaj.

Pihak otoritas mengingatkan jemaah untuk menjaga stamina dan mengimbau agar mereka tidak memaksakan diri menghadapi kepadatan fisik. Perlindungan kesehatan dan pembatasan aktivitas berat menjadi fokus utama petugas demi keselamatan seluruh anggota rombongan.

"Jangan memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Syariat memberikan keringanan melalui mekanisme badal lontar bagi jemaah yang memiliki uzur," tegas Maria Assegaff, Juru Bicara Kemenhaj.

Jemaah kini diminta tetap berada di dalam kelompok masing-masing, membawa identitas diri, serta menghemat tenaga untuk rangkaian ibadah hingga nafar awal maupun nafar tsani. Kemenhaj memastikan pengawasan transportasi dan layanan kesehatan akan berjalan nonstop selama 24 jam.

Artikel terkait

Rekomendasi