Kemenhaj Matangkan Layanan Jemaah Haji Indonesia Menjelang Fase Armuzna

Kemenhaj Matangkan Layanan Jemaah Haji Indonesia Menjelang Fase Armuzna
Foto: Ilustrasi Kemenhaj Matangkan Layanan Jemaah Haji Indonesia Menjelang Fase Armuzna.

Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mematangkan persiapan layanan di seluruh lini menjelang fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) untuk menjamin keselamatan jemaah asal Indonesia di Makkah pada Kamis (21/5/2026).

Penguatan fasilitas tersebut mencakup aspek penempatan jemaah, sistem transportasi, pemenuhan konsumsi, layanan kesehatan, perlindungan, hingga kesiapan para petugas di lapangan. Pemantapan ini dilakukan karena fase Armuzna menjadi tahapan paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

"Menjelang fase puncak haji, Kementerian Haji dan Umrah bersama PPIH Arab Saudi terus memperkuat kesiapan layanan di Armuzna. Seluruh unsur layanan kami koordinasikan, baik terkait tenda, konsumsi, transportasi, layanan kesehatan, perlindungan jemaah, maupun penempatan petugas di titik-titik layanan," ujar Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Data operasional per 20 Mei 2026 mencatat sebanyak 513 kloter yang terdiri dari 197.876 jemaah dan 2.044 petugas telah berangkat ke Tanah Suci. Sebanyak 237 kloter dengan 90.691 jemaah dan 945 petugas mendarat di Jeddah, sementara jemaah yang telah tiba di Makkah mencapai 502 kloter dengan 193.593 jemaah dan 2.008 petugas. Selain itu, terdapat 15.418 jemaah haji khusus yang sudah tiba di Arab Saudi.

Penyusunan skema pergerakan menuju Armuzna berdampak pada penghentian sementara operasional Bus Shalawat mulai Jumat, 22 Mei 2026 pukul 18.00 waktu Arab Saudi. Jalur transportasi ini dijadwalkan kembali aktif melayani jemaah pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 01.00 waktu Arab Saudi.

"Layanan Bus Shalawat akan dihentikan sementara mulai Jumat, 22 Mei 2026 pukul 18.00 waktu Arab Saudi. Kebijakan ini dilakukan untuk mendukung pengaturan lalu lintas, kesiapan armada, serta penatangan transportasi jemaah menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina," jelas Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Meskipun ada pembatasan operasional bus, PPIH tetap berkomitmen memberikan bantuan mobilitas bagi jemaah yang belum menyelesaikan rukun ibadah awal mereka di Masjidil Haram.

"Bagi jemaah yang belum melaksanakan umrah wajib, tetap akan difasilitasi keberangkatannya menuju Masjidil Haram dan kepulangan ke hotel oleh PPIH. Kami mengimbau jemaah memperhatikan jadwal ini dan menyesuaikan aktivitas ibadah maupun mobilitas masing-masing," tutur Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Faktor kondisi fisik jemaah menjelang puncak haji juga menjadi perhatian utama pihak kementerian agar seluruh rangkaian ibadah di Armuzna dapat berjalan dengan optimal.

"Menjelang Armuzna, kami kembali mengingatkan seluruh jemaah agar mulai menghemat tenaga. Kurangi aktivitas yang tidak mendesak, perbanyak istirahat, jaga pola makan, minum air yang cukup, serta ikuti arahan petugas kloter, pembimbing ibadah, dan petugas sektor," kata Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Pihak kementerian kemudian menekankan pentingnya solidaritas antarjemaah dan kesigapan petugas dalam mengawasi jemaah yang membutuhkan perhatian khusus seperti lansia dan penyandang disabilitas.

"Kami mengimbau jemaah dan petugas untuk saling memperhatikan. Sapa dan tanya jemaah yang berjalan atau keluar sendirian. Jika tujuannya tidak jelas, antarkan dan laporkan kepada petugas terdekat. Kepedulian Bapak dan Ibu sekalian dapat mengurangi kemungkinan jemaah hilang atau terpisah dari rombongannya," ujar Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Mengenai akomodasi di lokasi puncak haji, Kemenhaj telah memetakan zonasi tenda dan melarang keras Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) memasang tanda pengenal kelompok secara sepihak.

"Kami sudah melakukan pembagian penempatan jemaah di tenda Arafah dan Mina. Kami mengimbau seluruh KBIHU untuk tidak menempelkan identitas KBIHU dalam bentuk apa pun di seluruh tenda di Arafah dan Mina. Petugas akan mencabut identitas KBIHU yang terpasang dan akan memberikan sanksi bagi yang melakukannya," tegas Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Langkah penertiban atribut ini diambil demi menjaga keteraturan fasilitas bersama yang disediakan bagi seluruh jemaah Indonesia selama berada di pos-pos Armuzna.

"Kami ingin memastikan jemaah mendapatkan layanan yang tertib, aman, dan nyaman, serta dapat menjalankan rangkaian ibadah puncak haji dengan khusyuk," pungkas Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.

Artikel terkait

Rekomendasi