Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memberikan jaminan pemenuhan hak badal haji bagi seluruh jemaah Indonesia yang meninggal dunia di Tanah Suci selama operasional haji 2026. Kepastian ini disampaikan oleh Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff pada Senin (4/5/2026) menyusul laporan adanya tujuh jemaah yang wafat.
Hingga saat ini, penyebab utama kematian jemaah haji tersebut dilaporkan akibat serangan jantung dan radang paru-paru. Pemerintah melalui petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyatakan komitmennya untuk mengurus seluruh proses ibadah bagi jemaah yang telah berpulang sebagaimana dilansir dari Nasional.
"PPIH memastikan bahwa seluruh jemaah yang wafat akan mendapatkan hak badal haji. Doa terbaik dipanjatkan agar seluruh almarhum dan almarhumah memperoleh husnul khatimah," ucap Maria Assegaff, Juru Bicara Kemenhaj.
Selain penanganan jemaah wafat, Maria menekankan pentingnya kewaspadaan kesehatan bagi jemaah yang masih menjalankan ibadah. Cuaca di Mekkah diperkirakan mengalami peningkatan suhu ekstrem hingga menyentuh angka 43 derajat celsius dalam beberapa waktu ke depan.
"Kami mengimbau seluruh jemaah untuk mengatur waktu ibadah dengan baik, memperbanyak minum air putih, menggunakan pelindung diri, serta menghindari aktivitas berat di siang hari," ucap Maria Assegaff.
Pihak kementerian juga meminta jemaah untuk proaktif melaporkan kondisi fisik mereka kepada petugas jika mulai merasa tidak sehat. Penyiagaan personel di berbagai titik lokasi dilakukan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan mendadak selama rangkaian ibadah berlangsung.
"Petugas haji juga disiagakan untuk memberikan pendampingan kapan pun jemaah mengalami kendala di lapangan," tutur Maria Assegaff.
Perhatian khusus dalam penyelenggaraan tahun ini juga diarahkan pada peningkatan fasilitas bagi kelompok rentan. Kelompok ini mencakup jemaah lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, serta jemaah perempuan untuk memastikan kenyamanan selama di Arab Saudi.
"Kami menghadirkan berbagai kemudahan layanan, termasuk Bus Sholawat yang beroperasi 24 jam dengan armada ramah lansia dan disabilitas," imbuh Maria Assegaff.
Layanan transportasi Bus Sholawat menjadi fasilitas utama yang menghubungkan pemondokan jemaah dengan Masjidil Haram tanpa henti. Operasional bus ini mencakup tiga titik krusial di Mekkah, yakni Terminal Syib Amir, Terminal Jiad (Ajyad), dan kawasan Jabal KaÔÇÖbah.
"Sebanyak 452 armada disiapkan untuk melayani jemaah secara non-setop, termasuk 52 unit bus hidrolik yang ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas," ucap Maria Assegaff.
Mobilitas jemaah dipermudah dengan pembagian 21 rute layanan yang diatur menggunakan sistem kode warna dan nomor. Pemerintah mewajibkan setiap jemaah untuk membawa kartu panduan rute guna mencegah terjadinya kendala dalam mengakses transportasi umum selama berada di Mekkah.