Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menghentikan sementara operasional layanan Bus Shalawat bagi jemaah di Arab Saudi mulai Jumat, 22 Mei 2026 pukul 18.00 waktu setempat. Penghentian dilakukan guna mendukung persiapan pergerakan jemaah menuju puncak ibadah haji, dilansir dari Nasional.
Kebijakan ini diambil demi mematangkan pengaturan lalu lintas dan kesiapan armada transportasi di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Pengoperasian kembali armada bus tersebut dijadwalkan pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 01.00 waktu Arab Saudi.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha memberikan penjelasan mengenai detail teknis penonaktifan sementara transportasi tersebut.
"Layanan Bus Shalawat akan dihentikan sementara mulai Jumat, 22 Mei 2026 pukul 18.00 waktu Arab Saudi. Kebijakan ini dilakukan untuk mendukung pengaturan lalu lintas, kesiapan armada, serta penataan transportasi jemaah menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina," jelas Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.
Pihak kementerian memastikan bahwa mobilitas jemaah yang belum menyelesaikan umrah wajib menuju Masjidil Haram akan tetap difasilitasi oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
"Bagi jemaah yang belum melaksanakan umrah wajib, tetap akan difasilitasi keberangkatannya menuju Masjidil Haram dan kepulangan ke hotel oleh PPIH," ucap Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.
Jemaah diminta memperhatikan perubahan jadwal ini demi menyesuaikan pergerakan masing-masing. Ichsan mengimbau agar para jemaah fokus menjaga kesehatan, menghemat tenaga, dan menghindari aktivitas fisik yang berlebihan sebelum rangkaian ibadah di Armuzna dimulai.
"Kurangi aktivitas yang tidak mendesak, perbanyak istirahat, jaga pola makan, minum air yang cukup, serta ikuti arahan petugas kloter, pembimbing ibadah, dan petugas sektor," ucap Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.
Solidaritas antarjemaah juga ditekankan oleh kementerian, khususnya perhatian ekstra terhadap kaum lansia, penyandang disabilitas, perempuan, serta jemaah yang memiliki masalah kesehatan.
"Sapa dan tanya jemaah yang berjalan atau keluar sendirian. Jika tujuannya tidak jelas, antarkan dan laporkan kepada petugas terdekat. Kepedulian Bapak dan Ibu sekalian dapat mengurangi kemungkinan jemaah hilang atau terpisah dari rombongannya," ujar Ichsan Marsha, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI.