Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia memfasilitasi pelaksanaan dam bagi jemaah haji melalui lembaga resmi Adahi Project di Arab Saudi untuk menjamin keamanan, transparansi, dan perlindungan dari penipuan. Langkah penataan ini dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menghormati keberagaman pandangan fikih jemaah.
Dilansir dari Cahaya, pengelolaan denda atau dam ini juga memberikan opsi pembayaran di dalam negeri bagi jemaah yang meyakininya. Berdasarkan data operasional terakhir, jumlah jemaah haji Indonesia yang tercatat telah menunaikan pembayaran dam kini mencapai 70.758 orang.
Pemerintah menegaskan bahwa kebebasan tata cara ibadah tetap dijamin selama mengikuti jalur resmi. Pilihan mekanisme diserahkan sepenuhnya kepada keyakinan masing-masing jemaah.
"Pemerintah menghormati keberagaman pandangan fikih terkait pelaksanaan dam. Karena itu, jemaah diberikan ruang untuk menjalankan keyakinan fikih yang diyakini masing-masing, sepanjang dilakukan melalui mekanisme yang benar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Suci Annisa, Juru Bicara Kemenhaj dalam siaran pers pada Minggu (17/5/2026).
Otoritas haji mengingatkan jemaah untuk menghindari transaksi melalui pihak-pihak ilegal yang menawarkan harga murah di media sosial atau pesan singkat. Pembayaran lewat jalur resmi Kerajaan Arab Saudi menjadi proteksi utama bagi jemaah.
"Khusus bagi jemaah yang memilih melaksanakan dam di Arab Saudi, kami mengimbau agar pembayaran dilakukan melalui Adahi Project. Ini penting agar prosesnya resmi, transparan, dan melindungi jemaah dari risiko penipuan maupun penyalahgunaan dana," tegas Suci Annisa, Juru Bicara Kemenhaj.
Jemaah yang masih bingung mengenai tata cara dan pandangan fikih disarankan langsung menghubungi petugas kloter, pembimbing ibadah, atau petugas PPIH Arab Saudi. Penegasan ini dikeluarkan karena dam menyangkut keabsahan ibadah.
"dam bukan sekadar transaksi pembayaran. Ini bagian dari kepastian ibadah jemaah. Karena itu, kami ingin memastikan jemaah mendapatkan informasi yang benar, memiliki pilihan sesuai keyakinan fikihnya, dan tetap terlindungi dari praktik tidak resmi yang berpotensi merugikan," kata Suci Annisa, Juru Bicara Kemenhaj.
Di samping pengelolaan dam, Kemenhaj melaporkan sebanyak 450 kloter yang terdiri dari 173.928 jemaah dan 1.796 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi hingga Minggu (17/5/2026). Untuk gelombang kedua, sebanyak 171 kloter dengan 65.603 jemaah serta 684 petugas telah mendarat di Bandara King Abdulaziz Jeddah.
Sementara itu, sebanyak 168.106 jemaah dan 1.740 petugas yang tergabung dalam 435 kloter sudah memasuki akomodasi di Mekkah. Sebanyak 11.960 jemaah haji khusus juga dilaporkan telah tiba di Mekkah jelang fase Armuzna.
Persiapan layanan di Armuzna terus dimatangkan oleh Kemenhaj dan PPIH Arab Saudi meliputi transportasi, tenda, konsumsi, medis, hingga pemetaan pergerakan jemaah. Terkait kondisi fisik, jemaah diminta membatasi aktivitas tidak mendesak demi menghemat energi.
"Kami mengimbau jemaah mulai menghemat energi dan menjaga kondisi fisik. Batasi aktivitas yang tidak mendesak, hindari paparan panas berlebihan, cukup minum, makan teratur, istirahat yang cukup, dan segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami keluhan," ujar Suci Annisa, Juru Bicara Kemenhaj.
Kemenhaj meminta jemaah lansia, disabilitas, dan jemaah dengan komorbid untuk terus berkoordinasi dengan petugas sektor serta ketua rombongan. Seluruh petugas haji mendapatkan apresiasi atas dedikasi mereka mendampingi jemaah di setiap tahapan.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Indonesia yang terus bekerja mendampingi jemaah di setiap fase layanan. Terima kasih juga kepada seluruh jemaah yang terus menjaga kedisiplinan, kebersamaan, dan mengikuti arahan petugas dengan baik. Semoga seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kesehatan, lelancaran, perlindungan, dan meraih haji mabrur," tutup Suci Annisa, Juru Bicara Kemenhaj.