UMKM Keluhkan Kenaikan Biaya Admin E-commerce yang Gerus Margin Keuntungan

UMKM Keluhkan Kenaikan Biaya Admin E-commerce yang Gerus Margin Keuntungan
Foto: Ilustrasi UMKM Keluhkan Kenaikan Biaya Admin E-commerce yang Gerus Margin Keuntungan.

Tren belanja daring yang menawarkan kepraktisan bagi konsumen kini menjadi beban berat bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kenaikan biaya administrasi dan potongan komisi yang melambung di platform e-commerce memicu keluhan dari para pedagang digital.

Kondisi ini membuat para pemilik brand harus bekerja ekstra keras karena margin keuntungan semakin menipis. Hal tersebut terjadi akibat besarnya proporsi bagi hasil yang harus disetorkan kepada pihak platform penyedia layanan.

Beban biaya ini terasa sangat mencekik bagi para penjual yang memiliki status premium. Dilansir dari Wolipop, Nena Herdiani selaku Manager Sales jenama hijab lokal Kalisha menyebutkan bahwa potongan biaya di kategori Shopee Mall jauh lebih tinggi daripada status penjual biasa.

"Kalau dari biaya potongannya banyak banget. Kita itu sudah Mall, potongannya lebih besar dibanding star seller. Potongannya sekarang kena di 26% per order. Itu belum lagi kalau ada campaign dari marketplace, kena lagi biayanya. Belum termasuk afiliasi dan iklan. Biaya itu lebih besar dibanding profit kita,"

ujar Nena kepada Wolipop dalam acara bazar Last Stock Sale Scarf Media di Chilax Sudirman, Jakarta Selatan. Situasi yang tidak menentu ini memaksa banyak pemilik brand untuk melakukan penyesuaian harga demi menjaga keberlangsungan usaha.

Nena mengaku pihaknya telah menaikkan harga produk sekitar 10% hingga 20% agar perusahaan tidak mengalami kerugian atau kondisi "boncos". Selain masalah biaya, kebijakan pengembalian dana atau retur juga dianggap tidak adil bagi sisi penjual.

"Harapannya, pembagiannya tidak sejomplang saat ini. Biayanya lebih besar ke platform dibanding ke keuntungan kita,"

tambah Nena. Menghadapi tekanan biaya admin yang tinggi, para pelaku usaha mulai mencari jalan keluar alternatif untuk menyelamatkan margin keuntungan mereka.

Strategi beralih kembali ke jalur penjualan luring atau melalui kanal pribadi kini mulai banyak diambil. Gasha, Brand Manager dari lini busana Tantri Namirah, mengungkapkan bahwa potongan besar secara otomatis membuat margin menjadi lebih sedikit.

"Potongan besar otomatis margin kita lebih sedikit, sedangkan order paling banyak dari online. Untuk menyiasatinya, kita jadi banyakin channel seperti ikut bazar personal, consignment store, hingga mengarahkan order via WhatsApp dan website sendiri,"

jelas Gasha. Meski demikian, transisi ke kanal luring memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait waktu operasional yang terbatas dibandingkan toko daring yang bisa diakses selama 24 jam penuh.

Di sisi lain, kenyamanan belanja digital masih sulit digeser oleh metode konvensional. Rani dari brand Zerina Banu melihat adanya fenomena unik di mana konsumen tetap setia bertransaksi di platform digital meskipun harga sudah disesuaikan.

"Kalau bazar biasanya banyak diskon, sedangkan online kadang harga normal. Tapi masih banyak juga yang belanja di Shopee karena lebih mudah, meskipun banyak potongannya dari sisi seller,"

kata Rani. Kenaikan biaya variabel yang terus bertambah di hampir seluruh platform e-commerce kini menjadi tantangan kolektif bagi industri kreatif lokal di Indonesia.

Para pelaku usaha sangat berharap adanya regulasi atau kebijakan platform yang lebih berpihak pada pertumbuhan bisnis kecil. Tujuannya agar ekosistem ekonomi digital tetap sehat dan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Artikel terkait

Rekomendasi