Kekurangan pasokan avtur mengancam operasional maskapai penerbangan di wilayah Eropa dan Asia akibat dampak eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Selasa (21/4/2026). Dilansir dari Detik Finance, krisis energi ini memicu potensi pembatalan penerbangan massal dan lonjakan harga tiket pesawat bagi para pelancong.
Kenaikan biaya operasional ini dipicu oleh terganggunya jalur distribusi logistik global yang menyebabkan stok bahan bakar menipis. Kondisi ini memaksa maskapai yang bergantung pada impor untuk melakukan penyesuaian jadwal penerbangan secara signifikan dalam waktu dekat.
Kepala Analis AS di perusahaan konsultan energi Kpler, Matt Smith menekankan bahwa kelangkaan pasokan dunia menjadi faktor utama yang mendorong pembengkakan harga bahan bakar di industri penerbangan.
"Ini akan memakan waktu setidaknya hingga Juli dan bahkan itu mungkin terlalu optimis saat ini," kata Smith dikutip dari CNN.
Meski terdapat upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz, dampak gangguan perjalanan udara ini diprediksi tetap berlanjut selama beberapa bulan ke depan. United Airlines tercatat telah memangkas jadwal penerbangan mereka sebesar 5 persen untuk periode enam bulan mendatang.
Biaya bahan bakar merupakan pengeluaran terbesar kedua bagi perusahaan penerbangan setelah beban tenaga kerja. Sebagai gambaran, satu unit jet komersial menghabiskan sekitar 800 galon bahan bakar setiap jam, sementara pesawat berbadan lebar mengonsumsi jumlah yang jauh lebih besar.
Empat maskapai raksasa asal AS, yakni United, American, Delta, dan Southwest, rata-rata menghabiskan dana hingga US$ 100 juta per hari untuk kebutuhan avtur pada tahun lalu. Angka tersebut dilaporkan mengalami kenaikan drastis sejak pecahnya konflik bersenjata.
Delta Air Lines memproyeksikan tambahan pengeluaran sebesar US$ 2 miliar untuk bahan bakar tahun ini meski mereka mengoperasikan kilang mandiri. Sementara itu, beban tambahan United Airlines berisiko menyentuh angka US$ 11 miliar jika situasi geopolitik tidak segera membaik.
Imbas krisis ini tercermin pada lonjakan harga tiket pesawat dadakan ke rute populer, seperti penerbangan dari AS ke Karibia yang naik 74 persen dibandingkan awal bulan ini menurut data Deutsche Bank. Rute daratan AS menuju Hawaii juga mengalami kenaikan harga sebesar 21 persen.
Data dari Kpler menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz menyebabkan ekspor avtur dari negara produsen seperti Kuwait dan Bahrain terhenti. Tahun lalu, lebih dari 20 persen pasokan avtur global yang dikirim melalui jalur laut melintasi selat tersebut, dengan mayoritas distribusi menuju pasar Eropa.
Direktur Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), Willie Walsh menyoroti langkah beberapa negara di Asia yang mulai memberlakukan pembatasan ekspor bahan bakar jet guna mengamankan stok domestik.
"Bahkan jika Selat Hormuz segera dibuka kembali secara permanen, butuh waktu berminggu-minggu bagi minyak dan bahan bakar jet yang terperangkap untuk sampai ke pelanggan di Eropa dan Asia. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk memulai kembali produksi minyak dan bahan bakar jet yang terhenti akibat perang," imbuh Walsh.