Kapitalisasi pasar seluruh emiten yang berada di bawah kendali konglomerat Prajogo Pangestu mengalami kemerosotan yang sangat tajam. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan berat yang melanda pasar saham domestik.
Seperti dilansir dari Investortrust, nilai kapitalisasi pasar dari enam emiten milik Prajogo Pangestu telah menyusut hingga Rp 1.924,89 triliun. Angka kemerosotan tersebut setara dengan 68,96% jika dihitung sejak akhir tahun 2025 hingga tanggal 21 Mei 2026.
Penyusutan nilai perseroan yang masif ini membuat total market cap keenam emiten tersebut anjlok. Nilainya meluncur bebas dari posisi semula Rp 2.791,56 triliun menjadi tinggal Rp 866,67 triliun.
Pelemahan nilai saham ini secara langsung memicu penurunan drastis pada total nilai kekayaan bersih milik Prajogo Pangestu. Nilai kekayaannya kini tercatat berada di angka US$ 15,2 miliar per 21 Mei 2026.
Kondisi tersebut menempatkan Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia. Posisi ini berubah drastis dari akhir tahun 2025, ketika total pundi-pundi kekayaannya masih mencapai US$ 22,5 miliar yang menjadikannya manusia paling tajir di tanah air.
Rincian Penurunan Market Cap Emiten Barito Group
Penurunan nilai kapitalisasi pasar paling masif melanda saham PT Barito Renewables Energy (BREN). Emiten berkode BREN ini mencatat penurunan market cap dari Rp 1.297,72 triliun menjadi Rp 343,83 triliun, atau menguap sebanyak Rp 953,89 triliun.
Koreksi dalam juga dialami oleh PT Chandra Asri Pacific (TPIA). Nilai kapitalisasi pasar emiten TPIA ini tergerus dari semula Rp 605,58 triliun menjadi tinggal Rp 196,38 triliun.
Sementara itu, PT Barito Pacific (BRPT) membukukan kapitalisasi pasar sebesar Rp 143,43 triliun per 21 Mei 2026. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan posisi akhir 2025 yang sempat menyentuh Rp 306,55 triliun.
Emiten lainnya, PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), juga mencatatkan penurunan market cap dari Rp 263,06 triliun menjadi Rp 60,14 triliun. Pada kurun waktu yang sama, PT Chandra Daya Investasi (CDIA) menyusut dari Rp 208,46 triliun menjadi Rp 88 triliun.
Selanjutnya, PT Petrosea (PTRO) mencatat nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 34,89 triliun per 21 Mei 2026. Nilai ini melosot dibandingkan capaian pada akhir tahun 2025 yang berada di angka Rp 110,19 triliun.
Dampak terhadap IHSG
Kejatuhan harga saham dari grup emiten ini memberikan dampak negatif yang cukup besar terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan data perdagangan, IHSG telah melemah lebih dari 30% sepanjang year to date (ytd) ke level 6.096.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), tiga saham utama milik Prajogo Pangestu yaitu BREN, BRPT, dan TPIA resmi masuk ke dalam jajaran top 10 laggards atau saham penekan utama indeks sepanjang tahun berjalan ini.