Penyanyi asal Amerika Serikat, Kehlani, mengungkapkan perjalanannya dalam menangani diagnosis Borderline Personality Disorder (BPD) dan gangguan bipolar melalui serangkaian pengobatan serta terapi khusus. Penjelasan mengenai kondisi kesehatan mental tersebut ia sampaikan dalam sesi wawancara bersama media VIBE pada Kamis (23/4/2026).
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, pelantun lagu After Hours ini mulai menjalani perawatan intensif setelah menerima diagnosis resmi sekitar satu tahun yang lalu. Langkah medis yang ia tempuh mencakup konsumsi obat-obatan hingga metode penyembuhan somatik guna menyeimbangkan kondisi psikologisnya.
"Ketika kamu akhirnya punya alat-alatnya, kamu punya diagnosis. Tapi secara bersamaan dengan diagnosa datanglah pekerjaan yang harus dilakukan," ucap Kehlani.
Masa pemulihan tersebut menuntutnya untuk belajar lebih mendalam mengenai cara kerja otak yang berbeda dari orang pada umumnya. Kehlani menegaskan pentingnya pemahaman mandiri terhadap perubahan perilaku yang muncul sebagai respons atas kondisi mentalnya.
"Saya mulai mengenali gejala dan pemicu saya. Saya mulai belajar seperti apa kehidupan yang harus saya jalani sebagai seseorang yang pikirannya berbeda," katanya.
Proses identifikasi mandiri ini juga melibatkan keterbukaan kepada orang-orang terdekat untuk melakukan intervensi medis saat diperlukan. Ia meminta kerabatnya segera menghubungi tenaga profesional apabila dirinya menunjukkan tanda-tanda perilaku manik atau kehilangan kebutuhan dasar.
"Hei, jika kamu melihat tanda-tanda ini seperti saya tidak tidur, saya tidak makan, saya berbicara sangat cepat. Tiba-tiba, saya ingin menekuni 17 hobi baru, dan saya mungkin mewarnai rambut saya menjadi merah muda, mungkin panggil saya dan beri tahu saya bahwa saya sedang berhalusinasi. Hubungi psikiater saya. Saya sedang dalam krisis," sambungnya.
Kehlani juga memaparkan bahwa gangguan tersebut sempat membawanya ke titik paranoia yang cukup ekstrem hingga menghambat aktivitas di luar ruangan. Emosi yang tidak stabil tersebut diakuinya sempat memengaruhi hubungannya dengan orang lain di sekitarnya.
"Saya berteriak di telepon setiap hari, berpikir saya mempermalukan semua orang dan sangat marah akan mengajari semua orang. Itu membuat paranoia, dan kemarahan saya semakin memburuk," tegasnya.
Penyanyi tersebut pertama kali membagikan informasi mengenai kondisi kesehatan mentalnya kepada publik melalui media sosial saat merayakan ulang tahun ke-30. Pengumuman yang dilakukan pada April 2025 tersebut menjadi titik awal keterbukaannya mengenai gangguan kepribadian dan bipolar yang dideritanya.