Insiden maut melibatkan truk trailer yang mengalami kegagalan fungsi rem terjadi di Jalan Raya Desa Malasan Wetan, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada Sabtu, 18 April 2026 sekitar pukul 23.30 WIB. Kecelakaan beruntun ini mengakibatkan empat orang tewas setelah truk menabrak lima kendaraan yang sedang berhenti di perlintasan kereta api.
Dilansir dari Detik Oto, kendaraan yang memicu kecelakaan adalah truk trailer Nissan bernomor polisi B-9625-UEJ. Kendaraan tersebut menghantam Toyota Vios Limo, dua unit pickup, satu unit Toyota Hi-Ace, serta satu unit truk Hino yang sedang mengantre saat palang pintu kereta api tertutup.
Kepolisian menyebutkan bahwa truk bermuatan triplek tersebut kehilangan kendali saat melintasi jalur menurun. Seluruh korban meninggal dunia merupakan pengemudi dan penumpang dari mobil Toyota Vios Limo yang berada di lokasi kejadian.
"Akibat kecelakaan ini, karena gagalnya fungsi rem truk trailer kontainer berisi triplek, pas di jalanan turunan, dan saat itu semua kendaraan yang ditabrak posisi berhenti, karena palang pintu ditutup, ada kereta api melintas, dan menabrak total 5 kendaraan," ujar Iptu Aditya Wikrama, Kanit Gakkum Satlantas Polres Probolinggo.
Data dari aplikasi Mitra Darat Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa truk trailer Nissan tersebut tidak mengantongi izin uji berkala yang aktif. Masa berlaku uji KIR kendaraan tersebut diketahui telah kedaluwarsa sejak 28 Oktober 2023.
Menanggapi kejadian ini, praktisi keselamatan berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI), Erreza Hardian, menilai besarnya dampak kerusakan dipengaruhi oleh bobot kendaraan yang tidak proporsional saat terjadi benturan. Menurutnya, kegagalan sistem pengereman pada kendaraan berat akan menciptakan gaya dorong yang sangat besar.
"Bisa disimpulkan jika sebuah kendaraan jauh lebih berat daripada kendaraan lain, kendaraan yang lebih ringan cenderung mengalami kerusakan lebih besar dalam kecelakaan," kata Reza.
Reza menekankan bahwa faktor utama kecelakaan ini adalah belum diterapkannya manajemen keselamatan yang komprehensif bagi angkutan jalan. Ia menyoroti lemahnya pengawasan korporasi terhadap pemeliharaan armada yang mengakibatkan fatalitas berulang.
"Sistem Aman adalah pendekatan revolusioner dalam pengelolaan keselamatan jalan raya yang didasarkan pada prinsip bahwa sistem lalu lintas harus cukup aman untuk mencegah kematian dan cedera serius saat terjadi kecelakaan," kata Reza.
Ia juga mempertanyakan peran manajemen perusahaan dalam memastikan kelaikan kendaraan di jalan raya. Hal ini merujuk pada temuan status KIR kendaraan yang sudah mati selama lebih dari dua tahun.
"Kenapa sampai perawatan tidak terjadi, KIR sudah mati padahal mereka bekerja tidak secara personal ada korporasi atau perusahaan atau minimal sebuah manajemen? Kontributor faktor tentang perawatan dan salah handling pengemudi ketika dalam kondisi darurat ini sudah berulang dan memang kaitan teknis. Tapi kalau sudah berulang bahkan banyaknya korban ya ada sistem aman yang tidak bekerja," ucap Reza.
Keahlian pengemudi dalam menangani situasi darurat juga menjadi catatan penting dalam evaluasi keselamatan ini. IMI berencana melakukan pembekalan langsung guna meningkatkan kompetensi teknis dan etika para pengemudi angkutan berat.
"IMI akan turun mengajarkan langsung kepada mereka. Karena saat ini situasinya banyak hazard di jalan maka keterampilan, pengetahuan dan etika pengemudi penting untuk ditingkatkan lewat edukasi dan praktik lewat suatu pelatihan berbasis kompetensi," katanya.
Lebih lanjut, Reza merinci beberapa faktor teknis yang kerap memicu terjadinya rem blong pada kendaraan besar. Faktor tersebut meliputi panas berlebih pada kampas rem hingga masalah pada tekanan udara pengereman.
"Kedua tekor angin, di mana udara bertekanan menurun dengan cepat saat digunakan pengereman berulang sehingga tidak bisa lagi digunakan untuk mengerem dan memindahkan kopling. Ketiga vapor lock, yaitu rem blong karena minyak remnya mendidih. Kemudian posisi transmisi netral karena pengemudi berusaha memindahkan ke lebih rendah dan ini tidak mungkin terjadi, malah netral," sebut Reza.