Sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat tabrakan antara KRL jurusan Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/04/2026) malam. Insiden fatal yang terjadi sekitar pukul 20.52 WIB ini memicu sorotan tajam terhadap kendala anggaran pembangunan infrastruktur jalur ganda di wilayah Jabodetabek.
Data korban terbaru yang dihimpun hingga Rabu siang menunjukkan para penumpang yang terluka tengah menjalani perawatan intensif di delapan rumah sakit sekitar Bekasi dan Cibitung. Dilansir dari Kompas, tabrakan melibatkan KRL nomor PLB 5568A dengan KA Jarak Jauh relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di KM 28+920, sementara 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dinyatakan selamat.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, memberikan perhatian khusus terhadap fakta bahwa gerbong belakang yang terdampak merupakan area khusus wanita. Ia melakukan peninjauan langsung ke RSUD Bekasi pada Selasa sore untuk memastikan penanganan para korban.
"Dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa standar keselamatan transportasi publik harus menjamin perlindungan bagi setiap warga negara tanpa memandang latar belakang gender. Pemerintah berkomitmen menjadikan aspek keamanan sebagai prioritas utama dalam operasional moda transportasi massal.
"Yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apapun," tegas Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Agus menambahkan bahwa investigasi menyeluruh akan segera dilaksanakan secara transparan guna menemukan penyebab pasti kecelakaan tersebut. Fokus utama kementerian adalah memastikan implementasi standar keamanan yang nyata bagi masyarakat.
"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat. Menghadirkan rasa aman, nyaman dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Dari sisi teknis, akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menilai keterbatasan dana menjadi tembok besar dalam penyelesaian proyek double-double track (DDT) Jakarta-Cikarang. Proyek yang seharusnya memisahkan jalur kereta jarak jauh dan KRL ini dinilai sangat mendesak untuk mencegah kepadatan jalur.
"Hambatannya duit, enggak ada anggaran," kata Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Djoko mengungkapkan bahwa rencana pembangunan jalur ganda ini sudah dibahas sejak 2003, namun realisasinya belum menjangkau wilayah padat seperti Cikarang hingga Cikampek. Ia memperingatkan risiko fatal jika perpanjangan rute KRL dilakukan tanpa pemisahan jalur yang memadai.
"Makanya perlu dibuat jalur terpisah sampai Cikampek, baru ada KRL-nya sampai sana. Selama tidak ada, celaka itu nanti," ucap Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Selain masalah infrastruktur fisik, penguatan tata ruang di sekitar rel kereta api juga dianggap krusial untuk menjaga keamanan operasional dari gangguan aktivitas warga. Djoko mendesak adanya koordinasi lintas sektor guna menertibkan akses tidak resmi di sepanjang jalur.
"Penataan ruang di sepanjang jalur kereta api harus diperkuat," kata Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Menurutnya, penegakan hukum terhadap tata ruang sangat diperlukan untuk memastikan lingkungan di sekitar jalur kereta tetap steril dan aman. Saat ini, proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih terus berjalan di lokasi kejadian.
"Diperlukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan lingkungan jalur tetap aman dan sesuai peruntukannya," kata Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).