Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Dipicu Persoalan Sistem Operasional

Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Dipicu Persoalan Sistem Operasional
Foto: Ilustrasi Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Dipicu Persoalan Sistem Operasional.

Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, dinilai sebagai cerminan kegagalan sistemik pada infrastruktur dan pola operasional. Peristiwa ini terjadi akibat tingginya risiko pencampuran jalur antara kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line.

Eks Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero), Riza Primadi, menjelaskan bahwa penggabungan dua jenis layanan kereta dengan karakteristik kecepatan dan pola berhenti yang kontras sangat membahayakan keamanan perjalanan. Ia menegaskan bahwa aspek teknis seperti perbedaan bobot rangkaian menjadi faktor penentu dalam insiden tersebut.

ÔÇ£Pada prinsipnya secara operasional perjalanan KA dengan mencampur dua jenis KA yang berbeda (KAJJ dan KRL) sangat berpotensi terjadinya KKA,ÔÇØ kata Riza, dilansir dari Nasional pada Senin, 4 Mei 2026.

Riza menepis anggapan bahwa peristiwa tersebut sepenuhnya merupakan kesalahan manusia dari pihak kru sarana. Menurutnya, analisis terhadap upaya pengereman masinis dapat dilihat dari kondisi fisik rangkaian setelah benturan terjadi.

ÔÇ£Human error itu siapa? Masinis? Rangkaian itu perlu jarak minimal 500 meteran jika dengan kecepatan hanya 60 km/jam,ÔÇØ ujarnya.

Penjelasan teknis lebih lanjut mengenai dampak tabrakan menunjukkan bahwa masinis telah berusaha meminimalisir fatalitas. Riza berargumen bahwa jika tidak ada tindakan pengereman, kerusakan yang timbul pada gerbong KRL akan jauh lebih parah.

ÔÇ£Jika nggak ngerem bisa lebih dari dua sampai tiga kereta KRL yang bakal diseruduk,ÔÇØ ujarnya.

Kebutuhan akan modernisasi sistem keamanan juga disoroti oleh pakar transportasi Darmaningtyas. Ia menyarankan implementasi teknologi pemantauan posisi global guna memberikan visibilitas yang lebih baik bagi awak kereta dalam mendeteksi hambatan di lintasan.

ÔÇ£Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta,ÔÇØ kata Darmaningtyas.

Darmaningtyas menambahkan bahwa pemanfaatan sensor tersebut jauh lebih aman dibandingkan mengandalkan pengereman darurat yang memiliki risiko keselamatan tersendiri bagi penumpang maupun stabilitas rangkaian kereta.

ÔÇ£Kalau semua sarana PT KAI itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,ÔÇØ ujarnya.

Pihak kepolisian terus melakukan pendalaman terhadap kasus ini guna memastikan penyebab pasti insiden di wilayah Jawa Barat tersebut.

ÔÇ£Kalau mengerem dadakan kan berbahaya juga untuk kereta api itu,ÔÇØ ujarnya.

Polda Metro Jaya dilaporkan telah melakukan pemeriksaan terhadap 31 orang saksi untuk mengumpulkan keterangan terkait kecelakaan yang melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi