Insiden maut yang melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek, KRL Commuter Line, dan sebuah taksi listrik di perlintasan Jalan Ampera, Bekasi, mengakibatkan 16 orang meninggal dunia. Kecelakaan beruntun ini dilaporkan turut menyebabkan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka akibat benturan keras antar-rangkaian kereta.
Peristiwa tragis ini bermula saat satu unit taksi listrik Green SM terjebak di tengah rel dan tertabrak oleh KRL Commuter Line. Insiden awal tersebut menyebabkan perjalanan kereta tertahan di Stasiun Bekasi Timur sebelum akhirnya ditabrak oleh rangkaian KA Argo Bromo Anggrek, sebagaimana dilansir dari Detik Oto.
Praktisi keselamatan berkendara sekaligus instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap aturan lalu lintas sebagai pemicu utama kecelakaan. Menurutnya, banyak pengendara yang masih mengabaikan risiko fatal demi kecepatan.
"Lemahnya Safety Awareness berarti rendahnya kesadaran seseorang terhadap keselamatan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Orang dengan safety awareness yang lemah cenderung tidak memikirkan risiko, mengabaikan aturan, atau merasa tidak akan terjadi apa-apa," kata Jusri, Pendiri JDDC.
Faktor edukasi dan kebiasaan buruk menjadi landasan mengapa pelanggaran di perlintasan sebidang maupun jalan raya terus berulang. Jusri menyebutkan bahwa sikap terlalu percaya diri atau overconfidence membuat pengemudi sering meremehkan potensi bahaya yang mengintai.
"Lingkungan sosial, melihat orang lain juga melanggar, jadi ikut-ikutan. Penegakan hukum lemah, jarang ada sanksi, sehingga tidak ada efek jera. Terburu-buru, mengutamakan kecepatan daripada keselamatan," kata Jusri, Instruktur JDDC.
Kondisi lingkungan yang tidak mendukung perilaku aman serta kurangnya sanksi tegas memperburuk situasi di lapangan. Hal ini menciptakan pola di mana masyarakat merasa terbiasa melanggar aturan tanpa memikirkan konsekuensi hukum maupun nyawa.
"Intinya, safety awareness yang lemah sering muncul dari kombinasi pengetahuan yang kurang, sikap yang meremehkan risiko, dan lingkungan yang tidak mendukung perilaku aman," sebut Jusri, Praktisi Keselamatan.
Beberapa perilaku berisiko tinggi yang kerap ditemukan meliputi menerobos palang pintu kereta api, tidak mengenakan alat pelindung diri, hingga mengemudi dalam pengaruh alkohol. Saat ini, korban luka-luka dilaporkan masih dalam penanganan medis pasca-evakuasi dari lokasi kejadian.