Insiden maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4/2026) malam. Peristiwa tragis ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan 38 penumpang lainnya menderita luka-luka, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut adalah Nurlela, seorang guru sekaligus bendahara di SDN Pulo Gebang 11, Jakarta Timur. Korban yang akrab disapa Ela itu diketahui sedang dalam perjalanan pulang menuju kediamannya di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Endang, kerabat korban yang juga bekerja sebagai penjaga sekolah, menuturkan bahwa dirinya mendapatkan informasi mengenai kecelakaan tersebut melalui siaran televisi. Penegasan mengenai status pekerjaan korban disampaikan saat Endang mengurus pencarian informasi di rumah sakit.
"Lihat berita ini, saya kaget kan Teh Ela (meninggal). Saya disuruh kepala sekolah, suruh nyari informasi, sudah ke sana, tapi katanya sudah dievakuasi," ujar Endang, Kerabat Korban.
Sebelum kejadian, Endang sempat menjalin komunikasi terakhir dengan korban melalui pesan singkat pada pukul 20.16 WIB. Pesan tersebut berisi permintaan tolong terkait barang milik korban yang tertinggal di lingkungan sekolah.
"Bahkan jam 20.16 WIB dia WA saya, kan jusnya ketinggalan, mungkin takut disemutin, mau minta tolong buangin mungkin," katanya, Kerabat Korban.
Seluruh korban luka saat ini telah dievakuasi ke beberapa fasilitas kesehatan terdekat, termasuk RSUD Bekasi, RS Primaya, dan RS Mitra Keluarga. Sementara itu, jenazah para korban yang meninggal dunia dibawa ke Instalasi Pemulangan Jenazah RSUD Kota Bekasi untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Dampak dari kecelakaan ini membuat PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara operasional kereta api jarak jauh yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir. Upaya ini dilakukan guna memperlancar proses evakuasi di lokasi kejadian.
PT KAI juga menyediakan layanan informasi bagi keluarga korban melalui pembukaan posko di Stasiun Bekasi Timur dan pusat kontak 121. Di lokasi kecelakaan, sejumlah personel kepolisian masih disiagakan untuk mengatur arus lalu lintas dan mendukung jalannya proses evakuasi penumpang.