Insiden tabrakan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan sebidang Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, menyebabkan 14 orang meninggal dunia. Peristiwa tragis ini juga mengakibatkan 84 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagaimana dilansir dari Suara.
Kecelakaan bermula saat satu rangkaian KRL relasi Bekasi-Cikarang menabrak taksi listrik di perlintasan sebidang JPL 85 yang menyebabkan kereta mogok. Dampaknya, rangkaian KRL lain harus berhenti di peron Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu jalur aman sebelum akhirnya dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memberikan rincian kronologi mengenai pengereman dan dampak berantai yang terjadi di lokasi kejadian.
"Jika masinis melihat ada kereta di depannya, mengapa rem tidak langsung diinjak agar kereta berhenti seketika?" tanya publik yang dikutip dalam laporan tersebut.
Secara teknis, KA Argo Bromo Anggrek memiliki bobot kosong mencapai 600 ton yang membuatnya mustahil untuk berhenti secara mendadak. Berdasarkan prinsip fisika, massa yang besar menghasilkan energi kinetik tinggi sehingga memerlukan jarak pengereman hingga 1,6 kilometer untuk berhenti total.
Sistem pengereman udara pada kereta juga memerlukan waktu untuk mengalirkan tekanan ke seluruh gerbong. Selain itu, kontak antara roda baja dan rel memiliki koefisien gesek yang rendah dibandingkan karet di atas aspal, sehingga pengereman darurat yang dipaksakan justru berisiko membuat kereta terguling.
Presiden Prabowo Subianto telah meninjau para korban di RSUD Bekasi dan memberikan instruksi langsung terkait evaluasi keselamatan transportasi.
"Lintasan kereta api ini banyak yang tidak dijaga. Saya sudah setujui segera dibangun flyover langsung melalui bantuan presiden untuk Bekasi," tegas Presiden Prabowo.
Langkah pembangunan flyover tersebut diharapkan menjadi solusi permanen untuk memisahkan jalur kendaraan bermotor dengan jalur kereta api. Saat ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab teknis dan operasional di balik musibah ini.