Kecelakaan hebat melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Selasa, 28 April 2026. Insiden tabrakan antar-kereta ini dipicu oleh adanya satu unit kendaraan yang mengalami gangguan mesin di atas rel.
Peristiwa ini bermula ketika sebuah taksi Green SM mendadak mogok tepat di pintu perlintasan kereta yang lokasinya tidak jauh dari stasiun. Akibat posisi kendaraan yang menghalangi jalur, tabrakan pertama antara kereta dan mobil taksi tersebut tidak terhindarkan.
Dikutip dari Suara, keberadaan taksi yang tertabrak mengakibatkan rangkaian Commuter Line yang sedang berada di Stasiun Bekasi Timur tertahan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Posisi kecelakaan yang berada tepat di pintu kereta mengunci pergerakan rangkaian di jalur tersebut.
Dampak dari terhambatnya jalur tersebut menjadi fatal saat KA Argo Bromo Anggrek melintas di jalur yang sama. Karena jalur yang tertutup, rangkaian kereta jarak jauh tersebut akhirnya menabrak bagian belakang Commuter Line yang masih tertahan di area stasiun.
Kondisi pasca-kecelakaan menunjukkan kerusakan yang cukup signifikan pada badan kereta. Akun Instagram Darwansyah Tanjung sempat mengunggah visual yang memperlihatkan kondisi unit Commuter Line yang ringsek setelah dihantam oleh KA Argo Bromo Anggrek.
"Mari sama-sama kita mendoakan untuk para korban dan pejuang nafkah lainnya yg sedang berjuang," tulis sang pengguna akun pada Selasa, 28 April 2026.
Sorotan Publik Terhadap Fasilitas Keselamatan
Insiden tragis ini memicu reaksi keras dari warganet di media sosial. Fokus publik kini tertuju pada masalah ketiadaan palang pintu otomatis di lokasi kejadian yang dinilai menjadi faktor pendukung terjadinya kecelakaan berulang di titik tersebut.
Salah satu pengguna media sosial, @schkarham, menyampaikan kritik tajam melalui kolom komentar mengenai pengelolaan perlintasan di area yang padat tersebut. Ia menyinggung adanya penolakan dari pihak tertentu terhadap modernisasi fasilitas keselamatan.
"Yang harus tanggung jawab itu ORMAS di sana yang menolak palang pintu otomatis," kata akun @schkarham di kolom komentar.
Ia juga menambahkan keluhannya mengenai kondisi lapangan yang tidak ideal untuk keamanan publik. Penutupan palang pintu secara manual di satu sisi dinilai sangat membahayakan bagi kawasan stasiun yang selalu ramai oleh mobilitas warga.
"Bayangin stasiun crowded palang pintu manual. Mana yang nutup cuma satu sisi, geram sama ormas yang nolak palang pintu kereta otomatis cuma buat ngenyangin ormas doang," ujar dia.
Merespons situasi tersebut, warga internet lainnya mendesak agar pihak berwenang segera melakukan evaluasi menyeluruh. Keamanan bersama harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan kelompok yang menghambat pemasangan palang pintu otomatis.
"@schkarham Sudah kejadian gini, harus bertindak nggak sih? Palang pintu harus otomatis. Tidak perlu persetujuan yang tidak seharusnya, ini demi keamanan bersama," kata warganet.