Tujuh orang dinyatakan meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka akibat kecelakaan yang melibatkan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4/2026) malam.
Insiden maut tersebut dikonfirmasi oleh pihak otoritas perkeretaapian setelah melakukan pendataan terhadap para korban di lokasi kejadian. Korban luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit terdekat, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memberikan keterangan resmi mengenai jumlah manifes korban jiwa dalam peristiwa tersebut saat meninjau lokasi. Penegasan mengenai total korban disampaikan di hadapan awak media pada Selasa (28/4/2026) pagi.
"Jumlah korban yang terjadi kecelakaan kereta tadi malam, meninggal dunia itu 7 orang," ujar Dirut KAI Bobby Rasyidin kepada wartawan di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).
Peristiwa tabrakan ini dinilai sebagai kejadian traumatis yang memberikan dampak psikologis luas bagi para penyintas maupun keluarga korban. Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren memberikan pandangannya terkait urgensi menjaga empati publik di tengah situasi bencana tersebut.
"Dampak yang ditimbulkan karena kehilangan orang yang meninggal karena kejadian, korban yang luka luka, penumpang selamat yang shock dan kaget berat, ada juga keluarga di rumah yang sangat cemas menunggu kabar," kata dr Lahargo saat dihubungi detikcom Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu menahan diri untuk tidak menyebarkan materi visual yang tidak layak demi menghormati mereka yang terdampak. Hal ini bertujuan agar informasi yang beredar tidak memicu trauma tambahan.
"Dalam situasi bencana seperti ini seharusnyalah empati lebih besar daripada rasa penasaran dan impuls untuk posting berita paling awal agar viral," sambung dr Lahargo.
Upaya untuk bersimpati bisa ditunjukkan dengan cara memprioritaskan rasa kemanusiaan daripada sekadar mengejar eksploitasi konten. Tindakan mengunggah foto atau video yang memperlihatkan kondisi fisik korban sangat tidak dianjurkan.
"Jangan buru-buru mengunggah foto atau video korban yang vulgar, apalagi yang memperlihatkan luka berat, tubuh terjepit, darah, atau kondisi yang sangat mengenaskan," kata dr Lahargo.
Tindakan menahan diri menjadi kunci utama dalam merespons krisis agar informasi yang tersebar tetap kondusif. Ia menekankan bahwa kebutuhan hati untuk berempati jauh lebih penting dibandingkan kecepatan membagikan kabar di media sosial.
"Dalam situasi krisis, manusia sering terdorong oleh rasa ingin tahu dan impuls untuk menjadi yang pertama membagikan, padahal yang lebih dibutuhkan adalah hati yang mampu menahan diri," lanjut dr Lahargo.