Sebuah mobil Toyota Innova yang membawa anggota Komisi X DPR RI Muhammad Hilman Mufidi atau Gus Hilman mengalami kecelakaan di Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) KM 834 pada Sabtu (23/5/2026). Insiden tersebut diduga terjadi karena pengemudi mengantuk, sebagaimana dilansir dari Otomotif.
Pihak kepolisian melaporkan bahwa kecelakaan ini melibatkan kendaraan jenis MPV tersebut dengan sebuah dump truk. Kedua kendaraan diketahui sedang melaju searah dari wilayah Probolinggo menuju ke arah Pasuruan.
Kepala Unit Penegakan Hukum Satlantas Probolinggo Kota, Aipda Muhammad Taufik Rahadian mengonfirmasi bahwa mobil bergerak dari arah timur ke barat. Kendaraan tersebut mengangkut beberapa penumpang termasuk Gus Hilman di dalamnya.
"Sopir kendaraan Innova diduga mengantuk atau kurang konsentrasi sehingga kendaraan ke kiri dan menabrak bagian bak belakang sebelah kanan dump truk," ujar Aipda Muhammad Taufik Rahadian, Kepala Unit Penegakan Hukum Satlantas Probolinggo Kota.
Peristiwa ini memicu pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi keselamatan modern pada mobil. Saat ini banyak produsen otomotif yang telah melengkapi produk mereka dengan sistem peringatan dini demi menekan angka kecelakaan akibat kelalaian manusia.
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana menilai ketersediaan fitur canggih belum berbanding lurus dengan penurunan angka kecelakaan. Banyak pengendara mobil dinilai belum menguasai fungsi instrumen keselamatan tersebut.
ÔÇ£Memang teknologi pada kendaraan sekarang sudah canggih-canggih. Fitur-fitur belimpah tersemat di kendaraan, tetapi kecelakaan tetap tinggi. Masalahnya pengemudi tidak paham fungsi dari fitur-fitur tersebut. Tahu, tapi tidak paham," ujar Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI).
Sistem pengingat kantuk pada dasarnya hanya bekerja dengan memancarkan sinyal peringatan kepada pengendara. Sistem tersebut tidak dirancang untuk mengambil alih kontrol kemudi secara otomatis saat terjadi situasi darurat.
ÔÇ£Fitur pengingat ketika pengemudi ngantuk kan hanya berupa signal tidak lebih dan ada fitur line keeping assist misalnya yang memastikan kendaraan tetap dijalurnya dan fitur-fitur safety lainnya. Semua itu sifatnya hanya membantu pengemudi untuk mengingatkan adanya resiko bahaya,ÔÇØ kata Sony Susmana.
Pengoperasian kendaraan secara penuh tetap berada di bawah kendali mutlak pengendara. Teknologi yang ada saat ini belum mengadopsi sistem kemudi otomatis secara menyeluruh.
ÔÇ£Semua kembali kepada kesadaran si pengemudi, setelah diberi peringatan harus apa? Jika tidak dilakukan apa resikonya? Kendaraan-kendaraan yang ada dan canggih beredar itu belum full autonomous, masih harus dikontrol pengemudi,ÔÇØ ucap Sony Susmana.
Kondisi kelelahan sering kali datang secara bertahap tanpa disadari oleh para pengemudi. Hal ini membuat durasi berkendara saat mengantuk berisiko memicu kecelakaan fatal dalam waktu singkat.
"Ukuran kantuk yang datang pada masing-masing pengemudi itu beda-beda, rata-rata menganggap ringan karena datangnya diam-diam. Itu kenapa kecelakaan akibat ngantuk tinggi bisa satu jam atau tiga sampai empat jam," kata Sony Susmana.
Respons cepat terhadap sinyal kelelahan tubuh menjadi langkah mitigasi utama yang harus dilakukan. Pengemudi disarankan segera memanfaatkan fasilitas tempat istirahat terdekat guna memulihkan kondisi fisik.
"Pastikan merasakan lewat body signal. Seperti pegal, mata sepat, menguap, segera menepi cari rest area. Lakukan refresh terhadap motorik dan sensorik," lanjut Sony Susmana.