Kebiasaan berkendara yang kurang tepat menjadi salah satu faktor utama yang memicu peningkatan konsumsi bahan bakar mobil. Pola mengemudi seperti memacu kendaraan dengan kecepatan ekstrem serta melakukan pengereman mendadak secara berulang dapat mempercepat habisnya bensin.
Dikutip dari Suara, produsen bahan bakar Shell Indonesia menjelaskan bahwa pemilihan jenis BBM yang tidak selaras dengan spesifikasi mesin pabrikan juga berisiko membuat proses pembakaran menjadi tidak optimal. Oleh karena itu, para pengemudi disarankan untuk segera memperbaiki pola berkendara dan beralih ke bahan bakar yang sesuai demi mendongkrak efisiensi operasional kendaraan.
Lonjakan biaya operasional harian sering kali menjadi keluhan bagi masyarakat yang mengandalkan mobil untuk mobilitas harian. Tanpa disadari, terdapat lima kekeliruan dalam berkendara yang berpotensi besar menguras isi tangki bensin lebih cepat.
Melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya menjadi kekeliruan pertama yang sering diabaikan. Ketika kendaraan dipacu terlalu kencang, hambatan udara yang diterima bodi mobil akan meningkat secara drastik, sehingga memaksa mesin bekerja ekstra keras dan membakar lebih banyak bensin.
Sebaliknya, berkendara dengan kecepatan yang terlalu rendah ternyata juga tidak menjamin efisiensi. Pada mobil bertransmisi otomatis, kecepatan yang terlalu lambat membuat sistem transmisi cenderung tertahan di gigi rendah, sehingga putaran mesin tetap tinggi dan pembakaran menjadi kurang efisien.
Tindakan menginjak pedal gas secara tiba-tiba atau agresif juga menjadi pemicu utama pemborosan. Saat akselerasi dilakukan secara mendadak, pasokan bahan bakar akan disemprotkan dalam jumlah besar sekaligus ke ruang bakar, berbeda dengan akselerasi yang dilakukan secara bertahap.
Dampak Pola Rem dan Ketidaksesuaian Oktan
Pola mengemudi yang sering memadukan akselerasi cepat dan pengereman mendadak juga sangat merugikan. Terlalu sering menginjak pedal rem membuat energi kinetik kendaraan terbuang percuma, sehingga mesin harus kembali mengeluarkan tenaga besar untuk membangun kecepatan dari awal.
Faktor terakhir yang memengaruhi efisiensi adalah penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Sebagai contoh, mobil yang membutuhkan bensin beroktan tinggi namun dipaksakan menggunakan BBM beroktan rendah akan mengalami penurunan performa akibat pembakaran yang tidak sempurna.