Pakar kebahagiaan Dr Mark Williamson mengungkapkan bahwa kebahagiaan hidup manusia lebih banyak dibentuk melalui konsistensi tindakan kecil sehari-hari daripada perubahan besar. Temuan ini dibagikan pada 16 Mei 2026 setelah melakukan penelitian selama 15 tahun mengenai kesejahteraan mental, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Penjelasan mengenai metode efektif untuk merasa lebih bahagia tersebut dituangkan dalam bukunya yang berjudul Make Life Happier. Menurut CEO Action for Happiness itu, fokus seseorang sebaiknya tidak hanya tertuju pada diri sendiri, melainkan juga harus diimbangi dengan kepedulian terhadap sesama.
"Dorongan terbesar untuk kebahagiaan muncul ketika kita menggabungkan merawat diri sendiri dengan peduli pada orang lain," kata Williamson.
Williamson menilai masyarakat sering kali menjalani hidup dalam kondisi autopilot dan mengabaikan hal penting di sekitarnya. Dia menyarankan agar individu mulai melatih optimisme realistis, meskipun otak manusia secara alami memiliki kecenderungan lebih fokus pada hal-hal negatif.
"Lihat situasi apa adanya, tetapi pilih untuk fokus pada hal yang membantu," ujar Williamson.
Williamson menambahkan bahwa motivasi bertindak tidak perlu ditunggu, melainkan dapat dipicu melalui tindakan kecil seperti eksperimen berjalan kaki atau menelepon teman. Dia mendorong pembentukan kebiasaan baru dimulai dari langkah paling sederhana agar konsistensi tersebut dapat terjaga.
"Ilmu pengetahuan bisa memberi arah, tetapi penelitian terpenting adalah pengalaman diri sendiri," kata Williamson.
Faktor besar lain yang memengaruhi kebahagiaan serta umur panjang seseorang adalah kekuatan hubungan sosial. Kebiasaan merawat hubungan dapat dilakukan secara rutin dengan meluangkan waktu mendengarkan orang terdekat tanpa terburu-buru memberikan solusi atas masalah mereka.
"Hubungan juga perlu dirawat secara rutin, seperti kebugaran fisik," ujar Williamson.
Williamson mengingatkan bahwa kehadiran yang tulus untuk mendengarkan jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar memperbaiki keadaan. Sikap ini dinilai mampu memberikan ruang kenyamanan yang lebih besar bagi orang lain.
"Orang tidak selalu ingin diperbaiki, mereka ingin merasa didengar," kata Williamson.
Selain interaksi sosial, aspek penting lain yang digarisbawahi dalam riset Williamson adalah kemampuan untuk memaafkan. Mengikhlaskan masa lalu dianggap sebagai langkah krusial agar seseorang tidak terus terjebak dalam kemarahan yang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
"Ketika kita terus menyimpan kemarahan, kita tetap terjebak di masa lalu," ujar Williamson.
Rasa percaya dan penyebaran kebaikan kecil kepada sesama disimpulkan memiliki dampak domino yang luas bagi lingkungan sekitar. Tindakan positif yang dilakukan oleh satu individu dapat memicu rantai kebaikan yang terus berlanjut ke orang lain.
"Kebaikan bisa menyebar. Saat kita membantu seseorang, hal itu bisa menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama," kata Williamson.