Keajaiban Kursi Besi Minimarket: Ruang Tenang di Tengah Dunia Berisik

Keajaiban Kursi Besi Minimarket: Ruang Tenang di Tengah Dunia Berisik
Foto: Ilustrasi Keajaiban Kursi Besi Minimarket: Ruang Tenang di Tengah Dunia Berisik.

Pernah nggak sih dunia seakan-akan berjalan sangat berisik, sehingga membuat kepala terasa penuh? Biasanya, saat mengalami ini, banyak orang memilih untuk 'healing' di kursi besi minimarket.

Ada yang mampir ketika pulang kerja atau malam hari ketika overthinking itu datang. Tanpa disadari, kursi besi ini punya 'jam sibuk emosional'-nya sendiri. Kursi besi minimarket ini bisa dikatakan sederhana, nggak estetik, nggak juga yang privat, tapi di sinilah letak ajaibnya. Kenapa tempat ini terasa sangat nyaman untuk sekadar duduk melihat dunia yang nggak baik-baik saja?

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan fenomena baik laki-laki atau perempuan yang duduk-duduk di kursi besi minimarket dinamakan psychological behavior. Hal ini berkaitan erat dengan kebutuhan manusia akan ruang netral di tengah himpitan rutinitas.

"Di rumah ada tuntutan keluarga, anak, ada peran, ada ekspektasi. Sementara di tempat kerja ada tekanan, deadline, target, atasan," kata dr Lahargo, Psikiater.

Lokasi ini dianggap sebagai 'zona tengah' yang memberikan rasa aman karena tidak adanya tuntutan sosial yang membebani individu tersebut.

"Nah, di depan minimarket nggak ada yang nuntut, nggak ada yang ngejar. Tapi juga nggak sendirian banget gitu. Jadi secara psikologis ini disebut safe anonymous space," sambung dr Lahargo, Psikiater.

Di tempat seperti ini, seseorang bisa duduk dengan tenang melihat orang lalu-lalang tanpa harus ngobrol dan merasa kesepian. Sensasi ketenangan di tengah keramaian inilah yang menjadi daya tarik utama bagi mereka yang sedang merasa penat.

"Kadang bukan mau mikir berat. Tapi justru lagi capek mikir, jadi diem aja deh gitu," tegas dr Lahargo, Psikiater.

Harus diakui bahwa di media sosial, laki-laki sering sekali membuat konten duduk merenung di kursi minimarket. Tentu, hal ini dilakukan tanpa memandang sebelah mata jumlah perempuan yang mungkin melakukan hal serupa dengan frekuensi yang berbeda.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perbedaan mekanisme koping atau cara menyelesaikan masalah antara laki-laki dan perempuan secara psikologis.

"Kalau pria atau laki-laki ini cenderung internalizing, tambah dengan withdrawal sehingga yang kelihatan adalah diam, menjauh, dan memprosesnya sendiri," kata dr Lahargo, Psikiater.

Berbeda dengan pria yang cenderung menarik diri, perempuan biasanya memiliki pendekatan yang lebih terbuka dalam menghadapi tekanan emosional yang mereka alami.

"Sementara wanita, dia cenderung externalizing tambah dengan sharing ya. Jadi judulnya cerita, curhat, cari koneksi gitu. Makannya ada istilah, cowok stres diam seribu bahasa, tapi kalau cewek stres telepon sahabat berjam-jam," tutup dr Lahargo, Psikiater.

Artikel terkait

Rekomendasi