Kelompok usia muda yang selama ini dianggap lebih aman dari penyakit kritis, ternyata tetap memiliki risiko besar mengalami serangan jantung. Dilansir dari Detik Health, kini sekitar satu dari lima kasus serangan jantung justru ditemukan pada pasien berusia muda di bawah 40 tahun.
Berdasarkan laporan riset Cardio Metabolic Institut, kondisi medis ini umumnya tidak terjadi secara mendadak. Munculnya serangan tersebut biasanya dipicu oleh perpaduan antara gaya hidup yang kurang sehat dan kondisi kesehatan yang bersangkutan.
Beberapa faktor utama yang memicu risiko ini meliputi obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi atau tekanan darah tinggi, serta kadar kolesterol tinggi. Selain itu, kurang melakukan aktivitas fisik, sering mengonsumsi ultra processed food (UPF), stres kronis, kurang tidur, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol berlebih turut memperparah risiko.
Riwayat keluarga yang memiliki catatan penyakit jantung pada usia dini juga menjadi faktor penambah risiko yang signifikan. Di samping itu, para peneliti kini mulai mendalami adanya potensi keterkaitan antara komplikasi pasca COVID-19 serta keberadaan mikroplastik dalam darah terhadap penurunan kesehatan jantung.
Banyak warga berusia muda yang terlambat mendapatkan penanganan medis karena menyangka indikasi awal serangan jantung sebagai gangguan kesehatan biasa. Mereka sering kali mengira gejala tersebut hanya pegal biasa, masalah lambung, atau sekadar kecemasan.
Padahal, terdapat sejumlah tanda bahaya yang wajib diwaspadai, seperti rasa nyeri atau tekanan berat pada dada. Rasa sakit ini juga bisa menjalar hingga ke area rahang, leher, punggung, serta lengan.
Gejala lain yang tampak samar namun mematikan meliputi keluarnya keringat dingin, mual, pusing, hingga rasa lelah yang sangat berat tanpa alasan yang jelas. Keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal bagi keselamatan pasien.
Dampak Kerusakan Otot Jantung dan Langkah Medis
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Dr dr Dede Moeswir, memberikan peringatan mengenai fatalnya keterlambatan penanganan. Menurutnya, serangan jantung dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang hanya dalam hitungan menit saja.
Kondisi tersebut juga mampu mengakibatkan kerusakan yang sifatnya permanen pada otot jantung. Jika kerusakan ini terjadi, pasien berisiko tinggi mengalami gagal jantung di kemudian hari.
Saat serangan berlangsung, pembuluh darah yang bertugas mengalirkan oksigen ke jantung akan tersumbat total. Hal inilah yang memicu sebagian otot jantung mengalami mati jaringan akibat kekurangan pasokan oksigen.
"Terapi utama yang dilakukan ialah membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat melalui tindakan intervensi koroner perkutan menggunakan kawat khusus, balon, dan pemasangan stent," ujarnya, dalam sidang promosi doktor, seperti dilihat detikcom di YouTube MedicineUI, Minggu (17/5/2026).
Secara umum, serangan jantung dipicu oleh terhambatnya aliran darah menuju organ jantung. Apabila sumbatan pada pembuluh darah tersebut tidak segera ditangani secara cepat, jaringan otot jantung dipastikan akan mati.