Penelitian terbaru dalam jurnal Environmental Research mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai keberadaan mikroplastik pada bahan pangan segar. Partikel plastik berukuran mikroskopis ini ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada berbagai jenis sayuran dan buah-buahan.
Keberadaan unsur non-organik ini menimbulkan kekhawatiran serius karena dampak buruknya terhadap kondisi tubuh manusia. Fenomena ini sebagaimana dilansir dari Lifestyle, yang merujuk pada hasil studi lingkungan berskala internasional pada tahun 2024.
Para ilmuwan melakukan analisis mendalam terhadap lebih dari 12 sumber protein hewani dan nabati yang lazim dikonsumsi masyarakat. Sampel mencakup daging ayam, daging sapi, produk laut, olahan pangan, hingga komoditas hortikultura.
Data menunjukkan bahwa hampir 90 persen dari sumber protein yang menjadi objek uji terdeteksi mengandung mikroplastik. Jumlah partikel yang ditemukan pada tiap sampel sangat bervariasi namun tetap dalam kategori yang memprihatinkan.
Merujuk pada catatan riset Environmental Research sebelumnya di tahun 2020, sebaran mikroplastik pada buah dan sayur berkisar antara 52.050 hingga 233.000 partikel. Apel dan wortel menempati urutan tertinggi dengan kandungan melebihi 100.000 partikel per gram.
Secara spesifik, apel tercatat memiliki sekitar 195.500 partikel mikroplastik di setiap gramnya, diikuti oleh buah pir dengan angka 189.500 partikel. Pada kelompok sayuran, brokoli dan wortel menjadi jenis yang paling banyak terkontaminasi.
"Saat kita menggigit apel, kemungkinan besar kita juga ikut mengonsumsi mikroplastik," ujar Sion Chan, aktivis Greenpeace Asia Timur yang berbasis di Hong Kong.
Mikroplastik sendiri didefinisikan sebagai serpihan plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter yang tersebar di air, tanah, maupun udara. Materi ini terbentuk dari penguraian limbah plastik akibat paparan sinar matahari dan proses lingkungan lainnya.
Selain faktor alam, manusia juga memproduksi mikroplastik secara sengaja sebagai bahan abrasif untuk prosedur sandblasting. Partikel ini juga lazim digunakan dalam bentuk microbeads pada produk pembersih wajah.
Terdapat beberapa jenis bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam mikroplastik, di antaranya Bisphenol-A (BPA) untuk plastik polikarbonat dan Ftalat yang berfungsi menjaga fleksibilitas wadah makanan. Ada pula dioksin serta polietilen yang jamak digunakan pada kemasan pangan.
Masuknya partikel-partikel kimia ini ke dalam sistem pencernaan manusia dapat memicu berbagai gangguan medis kronis. Salah satu risiko utamanya adalah gangguan sistem hormon dan hambatan pada perkembangan janin.
Paparan mikroplastik secara terus-menerus juga berpotensi memicu peradangan pada saluran usus. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko penyakit serius seperti gangguan fungsi jantung hingga diabetes tipe 2.