PT Kereta Api Indonesia (Persero) mendorong penguatan infrastruktur elektrifikasi perkeretaapian di kawasan metropolitan Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (21/5/2026). Langkah tersebut dinilai mendesak guna menjaga keandalan operasional KRL Jabodetabek seiring melonjaknya volume penumpang secara signifikan.
Kapasitas angkut, waktu tempuh, dan penekanan emisi karbon di area perkotaan diklaim dapat dioptimalkan melalui teknologi berbasis listrik ini. Lonjakan pergerakan masyarakat urban menjadi faktor utama perlunya peningkatan pasokan daya kelistrikan secara berkelanjutan.
"Pertumbuhan mobilitas masyarakat urban dalam satu dekade terakhir meningkatkan kebutuhan penguatan elektrifikasi perkeretaapian di kawasan metropolitan," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).
Kenaikan perjalanan KRL, perluasan permukiman penyangga, hingga penambahan pusat ekonomi baru memicu tingginya kebutuhan daya listrik. Stabilitas operasi dan sistem persinyalan terintegrasi erat dengan ketersediaan infrastruktur kelistrikan yang dikelola bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.
"Ketika jumlah perjalanan KRL terus meningkat, kebutuhan daya listrik juga ikut bertambah. Penguatan elektrifikasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan operasional perjalanan, mendukung sistem persinyalan, serta memastikan perjalanan KRL tetap berjalan aman dan andal di lintas dengan trafik yang semakin padat," ujar Anne.
Data riset perjalanan urban menunjukkan lonjakan pengguna KRL dari 257 juta perjalanan pada 2015 menjadi 401 juta perjalanan pada 2025, seperti dilansir dari Money. Grafik perjalanan harian kereta otomatis ikut merangkak naik dari 881 perjalanan menjadi 1.063 perjalanan per hari dalam periode sepuluh tahun tersebut.
Kepadatan rute tertinggi tercatat pada Bogor Line dengan 299 perjalanan per hari, diikuti Bekasi Line sebanyak 232 perjalanan, dan Serpong Line mencapai 204 perjalanan. Tingginya frekuensi perjalanan berimplikasi langsung pada kian rapatnya jarak antar-kereta (headway) di lintas komuter.
"Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan kapasitas dan stabilitas sistem operasi yang semakin besar pada lintas-lintas perkotaan dengan trafik padat," jelas Anne.
Manajemen KAI menekankan bahwa pasokan daya yang mumpuni bertindak sebagai pilar utama penyokong gardu listrik serta perangkat persinyalan. Berdasarkan data statistik, mobilitas di Jabodetabek yang menyentuh 349,3 juta perjalanan pada 2025 memposisikan kawasan ini sebagai salah satu metropolitan terbesar di Asia Tenggara.
"Elektrifikasi berkaitan erat dengan kemampuan sistem menghadapi pertumbuhan perjalanan. Ketika mobilitas urban meningkat sangat cepat, infrastruktur daya perlu diperkuat agar operasional tetap stabil dan risiko gangguan perjalanan dapat ditekan," ujar Anne.
Skala pergerakan tersebut melampaui wilayah urban lain seperti Bandung dengan 18,7 juta perjalanan, Surabaya 16 juta perjalanan, dan Yogyakarta 10,1 juta perjalanan. Untuk mengatasinya, DJKA Kementerian Perhubungan bersama operator terus menjalankan transformasi layanan melalui revitalisasi stasiun, digitalisasi, serta konektivitas antarmoda.
"Elektrifikasi menjadi bagian penting dalam mendukung seluruh sistem tersebut agar mampu berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan," jelas Anne.
Rencana pengembangan prasarana listrik kini diarahkan ke kawasan Stasiun Jatake guna memperkuat suplai daya perjalanan KRL di masa depan. Proyeksi jangka panjang ini berfokus pada integrasi transportasi menuju pusat bisnis, hunian terpadu, hingga pusat kegiatan internasional.
"Transportasi berbasis rel saat ini berkembang menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan. Karena itu, pembangunan elektrifikasi perlu dipandang sebagai penguatan sistem transportasi jangka panjang untuk menjaga kapasitas layanan, mendukung efisiensi perjalanan masyarakat, serta meningkatkan kualitas konektivitas kawasan urban," tegas Anne.