Fitur terbaru pada kacamata pintar milik Meta kini tengah memicu kekhawatiran publik terkait aspek privasi. Pasalnya, teknologi yang disebut Name Tag tersebut mengandalkan sistem pengenalan wajah yang dianggap memiliki potensi ancaman keamanan bagi penggunanya.
Rencana kehadiran teknologi ini dalam kacamata pintar merupakan bagian dari upaya panjang Meta dalam mengembangkan sistem pengenalan wajah di berbagai layanan mereka. Namun, langkah ini tidak berjalan mulus karena munculnya sejumlah peringatan mengenai risiko teknis.
Sebuah memo internal mengungkap bahwa proyek kacamata pintar ini membawa risiko serius yang berkaitan dengan keamanan dan privasi, sebagaimana dilansir dari Teknologi melalui laporan The New York Times pada Senin (27/4/2026).
Kritik tajam juga dilayangkan oleh American Civil Liberties Union (ACLU) melalui sebuah surat resmi kepada Mark Zuckerberg yang dikirimkan pada 13 April. Organisasi tersebut menilai fitur Name Tag dapat membahayakan kelompok-kelompok rentan di masyarakat.
Pihak ACLU menyoroti bahwa minoritas agama, komunitas kulit berwarna, LGBTQ+, hingga korban penguntitan dan kekerasan seksual berada dalam posisi terancam. Bahkan, siapa pun yang memiliki aktivitas di dunia digital dinilai berpotensi terkena dampak negatif dari fitur ini.
Salah satu poin keberatan utama dari ACLU adalah desain perangkat yang menyerupai kacamata biasa. Bentuk fisik tersebut memungkinkan pengguna untuk melakukan identifikasi terhadap orang lain secara sembunyi-sembunyi tanpa disadari oleh targetnya.
Kondisi ini dikhawatirkan akan disalahgunakan untuk aktivitas pemantauan, pembuatan profil individu, hingga tindakan penguntitan. Selain itu, muncul kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan teknologi pengenalan wajah tersebut oleh aparat penegak hukum.
Sentimen negatif terhadap teknologi ini semakin menguat menyusul insiden yang terjadi pada tahun 2024. Saat itu, seorang mahasiswa Harvard dilaporkan menggunakan kacamata pintar dengan teknologi serupa untuk mengidentifikasi orang asing di ruang publik secara langsung.
Teknologi ini juga mendapatkan sorotan tajam dari sisi risiko sosial, terutama mengingat meningkatnya kasus kekerasan yang menyasar komunitas LGBTQ+. Keberadaan fitur identifikasi instan dianggap bisa memperparah situasi tersebut.
Upaya Mitigasi dan Klaim Manfaat Meta
Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak negatif, beberapa solusi teknis mulai disiapkan. Salah satunya adalah pengembangan lensa khusus yang dirancang untuk mengelabui sistem pengenalan wajah agar tidak bisa memproses data pemakai lensa tersebut.
Selain itu, terdapat pengembangan aplikasi yang mampu memberikan peringatan kepada pengguna apabila terdapat kacamata pintar yang aktif di sekitar mereka. Langkah-langkah ini diambil untuk memberikan proteksi tambahan bagi masyarakat umum.
Di sisi lain, Meta tetap memilih untuk melanjutkan rencana peluncuran fitur Name Tag meskipun gelombang kritik terus bermunculan. Perusahaan diduga sedang mencari momentum yang tepat saat perhatian publik terhadap isu privasi mulai mereda.
Meta memberikan pembelaan bahwa Name Tag memiliki kegunaan positif, khususnya bagi penyandang tunanetra atau individu dengan gangguan penglihatan. Fitur ini diklaim membantu mereka mengenali orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.
Pihak perusahaan berencana untuk memperkenalkan fitur ini terlebih dahulu melalui acara khusus yang diperuntukkan bagi komunitas tunanetra. Selain itu, perangkat ini diklaim tetap memiliki fitur keamanan dasar untuk menjaga transparansi penggunaan di ruang publik.
Kacamata pintar ini dilengkapi dengan lampu LED yang berfungsi sebagai indikator saat proses perekaman sedang berlangsung. Meta juga menyebutkan adanya pembatasan sistem agar pengenalan wajah hanya bekerja pada orang tertentu, seperti daftar pertemanan pengguna.