Tujuh penumpang dilaporkan meninggal dunia dan 81 orang lainnya mengalami luka-luka akibat kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB. Peristiwa nahas yang terjadi di KM 28+920 ini mengakibatkan benturan keras antar-rangkaian kereta.
Data mengenai penambahan jumlah korban jiwa tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin sebagaimana dilansir dari Suara. Insiden ini terjadi saat kereta api jarak jauh tersebut bertabrakan dengan kereta komuter di area stasiun.
Pihak PT KAI menyatakan akan bertanggung jawab penuh atas dampak musibah ini. Perusahaan berkomitmen menanggung seluruh biaya perawatan medis bagi para korban yang terluka hingga biaya pemakaman bagi penumpang yang meninggal dunia.
Bobby Rasyidin memberikan rincian terbaru mengenai kondisi para korban dalam keterangannya di lokasi kejadian.
"Meninggal dunia itu 7 orang dan luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang," ujar Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan dalam kondisi selamat. Sementara itu, puluhan korban luka saat ini telah dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, dan RS Mitra Keluarga.
Proses penyelamatan di lokasi memerlukan waktu yang cukup lama karena petugas harus melakukan penanganan secara presisi terhadap korban yang masih terjepit di dalam rangkaian kereta. Operasi ini melibatkan tim medis gabungan, Basarnas, serta personel internal KAI.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba memberikan penegasan terkait prioritas utama manajemen dalam menangani dampak kecelakaan tersebut.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik dan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak agar proses penanganan berjalan dengan baik," ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.
Hingga berita ini disusun, pihak berwenang terus melakukan koordinasi di lapangan guna mempercepat proses evakuasi sarana kereta api yang menghalangi jalur. Fasilitas kesehatan lain seperti RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, dan RS Hermina juga turut dikerahkan dalam penanganan medis darurat.