Jusuf Kalla Libatkan Ahli IT Lacak Penyebar Potongan Video Ceramah

Jusuf Kalla Libatkan Ahli IT Lacak Penyebar Potongan Video Ceramah
Foto: Ilustrasi Jusuf Kalla Libatkan Ahli IT Lacak Penyebar Potongan Video Ceramah.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla melibatkan tim ahli teknologi informasi serta aparat kepolisian untuk melacak pengunggah potongan video ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Selasa (21/4/2026). Langkah ini diambil setelah video berdurasi 50 detik tersebut memicu polemik hukum.

Jusuf Kalla memilih untuk tidak berspekulasi mengenai identitas pihak di balik penyebaran konten tersebut. Dilansir dari Kompas, penelusuran secara digital kini tengah dilakukan guna menemukan sumber pertama yang mengedarkan rekaman tersebut ke ruang publik.

"Jangan. Saya tidak mau duga, tapi lagi sekarang akan diteliti lewat teknologi siapa itu," kata JK, Selasa (21/4/2026).

Pelacakan ini dianggap krusial karena narasi dalam video tersebut telah berujung pada pelaporan dirinya atas tuduhan penistaan agama. Tim khusus yang terdiri dari para pakar telah dikerahkan untuk melakukan investigasi siber.

"Iya (sedang dilacak), ada tim yang melacak, tim ahli," ujarnya, dipantau dari Breaking News KompasTV.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini juga memberikan instruksi tegas kepada otoritas terkait untuk membongkar asal-usul kalimat yang disematkan dalam potongan video tersebut. Fokus penelitian mencakup identitas individu yang memasukkan teks dan menyebarkannya secara masif.

"Kita minta polisi, minta juga ahli-ahli IT, ingin meneliti ini dari mana asalnya ini, kan semua lewat IT, siapa yang memasukkan kalimat itu, yang 50 detik itu. Siapa yang mengedarkan," tegasnya.

Kasus ini bermula dari laporan yang dilayangkan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke pihak kepolisian. Menanggapi situasi tersebut, Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait isi lengkap ceramah yang sebenarnya membahas tentang perdamaian dunia dan domestik pada Sabtu (18/4/2026).

"Acara di UGM itu acara ceramah bulan puasa, saya diundang datang, karena temanya adalah perdamaian. Saya jelaskan tentang apa itu perdamaian," katanya dalam konferensi pers, Sabtu (18/4/2026).

Dalam ceramah tersebut, Jusuf Kalla mengaku menguraikan sejarah berbagai konflik yang pernah terjadi di kancah internasional hingga krisis internal di Indonesia. Ia merinci satu per satu latar belakang konflik mulai dari persoalan ideologi hingga ekonomi.

"Kemudian mulai konflik dunia ini, konflik di Eropa, Perang Dunia I, saya uraikan. Dan bagaimana 15 konflik di Indonesia, apa yang terjadi," ujarnya.

Tokoh perdamaian asal Makassar ini menjabarkan tipologi konflik yang pernah melanda tanah air, seperti pemberontakan Madiun hingga krisis di Aceh. Ia juga menyinggung peristiwa di Timor Timur sebagai bagian dari pemaparan sejarah konflik wilayah.

"Ada konflik ideologi Madiun, ada konflik karena ideologi, ada konflik karena wilayah kayak Timtim (Timor Timur), ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu."

Penjelasan mengenai istilah agama muncul saat ia menceritakan pengalamannya memediasi konflik sektarian di Ambon dan Poso. Ia bermaksud memberikan pemahaman terminologi yang mudah dimengerti oleh jemaah masjid saat itu.

"Dalam Kristen, (konsep) ini namanya martir, tapi sebenarnya saya berada di masjid, dan (jemaah) tidak mengerti martir. Karena syahid sama martir hampir sama. Jadi, hanya istilah saja," jelasnya.

Ia menekankan bahwa pemilihan kata tersebut semata-mata sebagai sarana edukasi agar agama tidak disalahgunakan sebagai alat pemantik perselisihan. Jusuf Kalla memastikan tidak ada niat untuk masuk ke dalam ranah dogma agama tertentu.

"Tapi, karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid, karena kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak tahu. Untuk menjelaskan jangan agama dipakai untuk berkonflik. Jangan."

Artikel terkait

Rekomendasi