Juru bicara Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, menegaskan bahwa hubungan antara Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI tersebut dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tetap terjaga dengan sangat baik hingga saat ini. Penegasan ini disampaikan dalam dialog Kompas Petang pada Senin (20/4/2026) guna menanggapi polemik pernyataan JK mengenai sejarah karier politik Jokowi.
Dilansir dari Kompas, Husain memberikan klarifikasi bahwa pernyataan JK sebelumnya tidak bermaksud untuk mengecilkan peran pihak-pihak lain dalam perjalanan politik Jokowi. Ia menyebut seluruh elemen, baik partai politik maupun relawan seperti Projo yang dibentuk pada akhir 2013, memiliki kontribusi besar dalam memenangkan kontestasi yang ketat.
"Saya kira Pak JK tidak sedang mereduksi peranan pihak-pihak lain. Tetap mengakui itu pastilah, dan semua punya andil yang besar ya, termasuk Projo yang waktu itu, kalau saya tidak salah ingat, dibentuk tahun 2013, akhir tahun ya," jelas Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Pihak JK menyatakan bahwa pada saat itu semua elemen bekerja sama karena memiliki kesamaan tujuan untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK. Husain menambahkan bahwa JK hanya ingin mengungkapkan bagian yang menjadi porsinya tanpa menampik peran pihak lain dalam kemenangan tersebut.
"Kita pun sama-sama memiliki kesamaan tujuan pada waktu itu, sehingga kita memenangkan kontestasi pada saat itu yang sangat ketat. Nah, peranan semua pihak pastilah, dan Pak JK tidak menampik itu," tutur Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Husain juga meluruskan anggapan mengenai peran JK yang sering dikaitkan dengan balas budi politik. Menurutnya, JK hanya menampilkan apa yang menjadi bagian dari sejarah pencalonan Jokowi di Jakarta.
"Tetapi, beliau menampilkan atau mengungkapkan suatu bagian yang menjadi porsinya, bahwa ÔÇÿSaya kira-kira perannya seperti iniÔÇÖ. Jadi tidak juga, tidak punya peranan sama sekali, dan tidak eloklah disebut-sebut terus, tidak berterima kasih, tidak balas budi, dan seterusnya," tuturnya Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Mengenai pencalonan wakil presiden, Husain mengungkapkan bahwa penunjukan JK sebagai pendamping Jokowi bukan atas permintaan pribadi Jokowi melainkan melalui keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Hal ini ditegaskan untuk menunjukkan bahwa tidak ada beban politik tertentu di antara keduanya.
"Jadi, beliau tidak punya beban politik apa pun sebenarnya kepada Pak Jokowi, selain ikut setia membantu selama lima tahun kepemimpinan Pak Jokowi," jelas Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Pihak JK memastikan bahwa komunikasi tetap berjalan baik dan JK tidak memberikan respons negatif langsung kepada Jokowi terkait isu yang berkembang.
"Dan hubungan beliau sangat baik, saya kira, dan sampai saat ini, dia tidak memberikan tanggapan langsung akan masalah ini kepada Pak Jokowi sendiri, tidak," tegas Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Pernyataan JK tersebut sebenarnya ditujukan kepada para loyalis Jokowi untuk memberikan pemahaman mengenai dinamika menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang membawa Jokowi dari Solo ke ibu kota.
"Cuma menyampaikan kepada loyalis Pak Jokowi bahwa ÔÇÿPosisi saya, atau peran saya pada saat menjelang pilgub itu seperti iniÔÇÖ, supaya bisa dipahami oleh semua pihak, saya kira," kata Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Sebelumnya, dalam konferensi pers pada Sabtu (18/4/2026), Jusuf Kalla secara terbuka mengisahkan kembali momen ketika dirinya membawa Jokowi untuk bertarung di Jakarta. JK menyebut dirinya sebagai sosok yang menjemput Jokowi dari Solo untuk dicalonkan sebagai gubernur.
"Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa Jokowi ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa," kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
JK juga menceritakan langkah diplomasi politiknya dengan menemui Megawati Soekarnoputri guna meyakinkan agar memberikan restu kepada Jokowi untuk maju dalam Pilgub Jakarta.
"Akhirnya beliau setuju. Jadilah gubernur," ungkap Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Ia menekankan bahwa posisi gubernur merupakan jembatan krusial bagi Jokowi sebelum akhirnya menjabat sebagai presiden.
"Apa kurangnya saya coba? Saya bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur, mana bisa jadi presiden?" imbuh Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Husain Abdullah menegaskan kembali bahwa pernyataan JK tersebut murni pengungkapan fakta sejarah dan bukan upaya pamer jasa. Hal ini terpaksa disampaikan karena munculnya anggapan dari beberapa pihak yang menyudutkan JK.
"Pak JK tidak sedang menjelaskan jasanya, saya kira tidak. Beliau sedang mengungkapkan suatu fakta, bagaimana posisi beliau dan peranannya pada saat pencalonan Pak Jokowi ketika akan menjadi Gubernur DKI," kata Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Husain menambahkan bahwa fakta ini sebenarnya sudah lama disimpan oleh JK demi menjaga harmoni politik, namun situasi menuntut adanya klarifikasi terbuka.
"Kenapa ini dikeluarkan? Sebenarnya sudah lama Pak JK tidak mengungkapkan secara publish, karena tentu menjaga banyak hal, karena ini sesuatu yang tidak perlu diumbar juga," tambah Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Munculnya kesan bahwa JK tidak tahu berterima kasih setelah dipilih menjadi wakil presiden menjadi alasan utama mengapa fakta sejarah ini diungkap kembali ke publik.
"Tetapi karena makin ke sini kelihatannya banyak, ada beberapa ya loyalis-loyalis Pak Jokowi, yang mengesankan Pak JK ini kok seperti orang tidak tahu berterima kasih," lanjut Husain Abdullah, Juru Bicara JK.
Klarifikasi ini diharapkan dapat meluruskan persepsi mengenai siapa yang sebenarnya memberikan kontribusi dalam perjalanan karier politik tersebut.
"Kemudian seperti tidak tahu berbalas budi, padahal sudah diangkat atau ditempatkan sebagai wakil presiden oleh Pak Jokowi. Oleh karena itu, beliau akhirnya merasa perlu menyampaikan fakta yang sebenarnya, bahwa yang tidak berterima kasih dan tidak berbalas budi ya siapa," ungkap Husain Abdullah, Juru Bicara JK.