Seorang ibu dua anak, Fitriyani (30), nekat bertaruh nyawa mengatur lalu lintas kendaraan berat di perempatan depan Stasiun Ancol, Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, pada Senin (20/4/2026). Pekerjaan sebagai juru parkir liar ini ia lakoni demi menyambung hidup pasca berpisah dengan suaminya dua tahun lalu.
Kisah perjuangan perempuan ini dilansir dari Megapolitan, yang menyoroti risiko tinggi yang dihadapi Fitriyani saat menghadang truk kontainer dan trailer demi membantu pengendara motor menyeberang. Meskipun tidak memiliki pengalaman kerja formal, ia tetap bertahan di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang didominasi kendaraan logistik dari arah Jakarta International Stadium (JIS).
Pendapatan harian yang diperoleh Fitriyani dari hasil mengatur jalanan ini tidak menentu, namun cukup untuk menopang kebutuhan dasar keluarganya. Ia menyisihkan uang untuk biaya sekolah anak pertamanya yang duduk di bangku SMP serta kebutuhan anak bungsunya yang baru berusia lima tahun.
"Ya dibilang pendapatannya enggak tentu juga. Kadang kalau dihitung-hitung semua full kalau enggak dipakai beli es, beli apa gitu yang lain, ya sampai Rp 200.000 atau Rp 250.000," ungkap Fitriyani, Juru Parkir.
Selain untuk kebutuhan pribadi dan anak-anaknya, Fitriyani juga membantu keuangan kakaknya yang berstatus orang tua tunggal. Sang kakak merupakan sosok yang memberinya tumpangan tempat tinggal sekaligus mengajak Fitriyani menekuni profesi sebagai juru parkir di lokasi yang sama.
"Buat makan sehari-hari. Kadang buat bantu kakak setiap harinya itu kadang Rp 50.000, itu pun kalau lagi ramai aku kasih," sambung Fitriyani, Juru Parkir.
Fitriyani menyadari bahwa profesinya sering dipandang negatif dan berisiko terkena penertiban oleh pihak kepolisian atau Dinas Perhubungan. Namun, keterbatasan pengalaman sebagai ibu rumah tangga membuatnya merasa tidak memiliki opsi pekerjaan lain yang bisa diambil secara cepat untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
"Sebenarnya pengin kerja bener gitu cuma kan namanya keadaan, enggak ada yang ngajak, kedua mesti banyak pengalaman. Cuma ibu rumah tangga apa sih pengalamannya? Jadi enggak ada pilihan lain selain jadi tukang parkir gitu," ungkap Fitriyani, Juru Parkir.
Ketegangan sering terjadi di lapangan ketika ia harus berhadapan dengan pengemudi yang tidak sabar menunggu giliran menyeberang. Fitriyani mengaku sering terlibat adu mulut demi menjaga kelancaran lalu lintas dan keselamatan pengendara sepeda motor di kawasan tersebut.
"Iya benar, bertaruh nyawa. Kadang kita harus berantem dulu kalau orang itu enggak mau sabar," ucap Fitriyani, Juru Parkir.
Hingga saat ini, Fitriyani masih rutin beroperasi dari pagi hingga sore hari di perempatan depan Stasiun Ancol. Ia berharap ke depannya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih aman dan layak tanpa harus menghadapi risiko kecelakaan di jalan raya setiap hari.