Jumlah Wisatawan Jakarta Turun di April 2026, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya

Jumlah Wisatawan Jakarta Turun di April 2026, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya
Foto: Jumlah Wisatawan Jakarta Turun di April 2026, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya. (Illustration by Pexels)

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat adanya penurunan tren perjalanan wisatawan nusantara ke wilayah ibu kota selama periode April 2026. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 8,74 juta perjalanan dilakukan oleh pelancong domestik pada bulan tersebut.

Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 19,97 persen jika disandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya. Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan bahwa tren negatif ini juga terlihat pada perbandingan secara tahunan.

Penyebab Penurunan Kunjungan Wisatawan:

  • Berakhirnya periode arus mudik yang puncaknya terjadi pada Maret 2026.
  • Perbedaan waktu perayaan hari besar dan masa mudik dibandingkan dengan tahun 2025.
  • Adanya pergeseran konsentrasi mobilitas masyarakat setelah masa libur panjang berakhir.

Kadarmanto mengungkapkan bahwa faktor utama penurunan bulanan ini dipicu oleh selesainya masa mudik. Pada tahun 2025, arus mudik terkonsentrasi di bulan Maret, sementara pada 2026 justru jatuh di bulan April.

Jakarta Selatan Tetap Menjadi Destinasi Unggulan

Meskipun secara total mengalami penurunan, Jakarta Selatan tetap kokoh sebagai wilayah yang paling banyak dikunjungi wisatawan nusantara. Wilayah ini menyumbang kontribusi kunjungan sebesar 28,10 persen bagi sektor pariwisata ibu kota.

Banyaknya lokasi wisata menarik dan pusat kuliner yang beragam menjadi alasan utama Jakarta Selatan begitu diminati. Fasilitas pendukung dan destinasi modern lainnya di wilayah ini dinilai lebih unggul dibandingkan area lain di Jakarta.

Berikut adalah distribusi kunjungan wisatawan domestik di wilayah DKI Jakarta:

Wilayah Jakarta Kontribusi Kunjungan (%)
Jakarta Selatan 28,10%
Jakarta Pusat 20,42%
Jakarta Timur 19,48%
Jakarta Barat 16,32%
Jakarta Utara 15,16%
Kepulauan Seribu 0,52%

Data di atas memperlihatkan dominasi Jakarta Selatan dalam menarik minat pelancong domestik. Sementara itu, Kepulauan Seribu masih memiliki porsi terkecil dalam peta kunjungan wisatawan nusantara.

Peningkatan Okupansi Kamar Hotel di Jakarta

Berbeda dengan jumlah perjalanan yang menyusut, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Jakarta justru menunjukkan grafik yang positif. TPK hotel berbintang mencapai angka 54,80 persen pada April 2026, naik 10,83 persen poin dari Maret.

Peningkatan okupansi ini juga terjadi secara tahunan dengan kenaikan sekitar 7,94 persen poin. Tidak hanya hotel bintang, hotel non-bintang pun mengalami kenaikan tipis sebesar 3,44 persen poin secara bulanan menjadi 38,09 persen.

Rincian Durasi Menginap dan Profil Tamu:

  • Rata-rata tamu hotel bintang menginap selama 1,60 malam.
  • Durasi menginap di hotel non-bintang rata-rata mencapai 1,33 malam.
  • Sebanyak 88,93 persen tamu hotel bintang merupakan warga negara Indonesia.
  • Tamu asing hanya berkontribusi sebesar 11,07 persen dari total hunian.

Kadarmanto menyebutkan bahwa tamu lokal umumnya menghabiskan waktu menginap antara satu hingga dua hari. Mayoritas wisatawan domestik memilih hotel bintang tiga sebagai tempat beristirahat mereka selama berada di Jakarta.

Di sisi lain, tamu mancanegara menunjukkan preferensi yang berbeda dengan lebih banyak menginap di hotel bintang empat. Tercatat sekitar 43,12 persen tamu asing memilih fasilitas hotel pada level bintang tersebut untuk memenuhi kebutuhan akomodasi mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi