Dunia arsitektur di Indonesia menunjukkan dinamika yang signifikan dengan pertumbuhan jumlah praktisi perempuan. Fenomena ini mencerminkan inklusivitas yang semakin kuat dalam ekosistem industri kreatif nasional.
Data dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mencatat sekitar 5.500 orang atau 20 persen dari total 27.000 anggota merupakan perempuan. Angka ini dilansir dari Kompas sebagai potret perubahan budaya yang terus berkembang.
Ar. Afwina Kamal, Principal Architect Hadiprana Design sekaligus Kurator ARCH:ID 2026, memandang kemajuan tersebut sebagai peluang besar. Menurutnya, hal ini akan memperkuat wajah arsitektur nasional menjadi lebih manusiawi.
ÔÇ£Dalam penyelenggaraan tahun ini, kami mendorong kolaborasi inklusif. Saya melihat tema sintesa merefleksikan cara perempuan bekerja. Di komunitas arsitektur, perempuan kian vokal dan nampak keberadaannya. Ini kemajuan nyata yang terus berlangsung,ÔÇØ tutur Afwina.
Kehadiran arsitek perempuan membawa karakteristik kerja yang kolaboratif dan integratif. Fokus utama yang diusung sering kali menitikberatkan pada keharmonisan desain.
Semangat inklusivitas ini menjadi latar belakang penyelenggaraan ARCH:ID 2026 yang berlangsung di ICE BSD City pada 24ÔÇô26 April 2026. Acara tersebut mengusung tema ÔÇ£Skema Sintesa: Integrasi Kolaboratif ArsitekturÔÇØ.
Salah satu sorotan dalam pameran tersebut adalah instalasi bernama ÔÇ£Paviliun CahyaÔÇØ. Proyek ini dianggap istimewa karena melibatkan kolaborator yang seluruhnya merupakan perempuan.
Fransiska Darmawan, Commercial Director in-Lite LED, menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan bentuk penghormatan bagi pemikiran Raden Ajeng Kartini. Ia menilai cahaya sebagai medium transisi yang menghubungkan ruang dengan persepsi manusia.
ÔÇ£Kami mendorong keterlibatan perempuan karena keberagaman perspektif mampu memperkaya proses kreatif serta menghadirkan pendekatan desain yang lebih inklusif dan humanis,ÔÇØ ujar Fransiska.
Paviliun tersebut mengeksplorasi pembentukan ruang melalui cahaya secara bertahap. Arsitek sekaligus seniman Jessica Soekidi yang merancang paviliun ini, mengambil inspirasi dari akar arsitektur Nusantara.
Jessica menilai leluhur bangsa telah memahami hubungan mendalam antara cahaya, ruang, dan alam. Hal ini terlihat pada arsitektur vernakular seperti rumah panggung dan candi yang memperhitungkan sinar matahari.
ÔÇ£Inspirasi utama Paviliun Cahya berakar dari sintesa arsitektur Nusantara. Kearifan lokal ini wajib dijaga selayaknya kita menjaga alam dan bumi. Pencahayaan berkualitas seharusnya tidak bersifat eksklusif, namun dapat diakses oleh semua kalangan,ÔÇØ terang Jessica.
Pergeseran Peran Cahaya dalam Desain
Saat ini terdapat perubahan tren dalam industri pembangunan terkait elemen pencahayaan. Jika sebelumnya dianggap sebagai pelengkap akhir, kini pencahayaan mulai diintegrasikan sejak tahap awal perancangan.
Direktur Dharmawan Group, Inka Dharmawan, mengonfirmasi adanya perubahan positif dari sisi klien. Integrasi sejak awal menghasilkan ruang yang lebih kohesif dan berkarakter kuat bagi penghuninya.
ÔÇ£Pencahayaan yang dipikirkan dengan matang (thoughtful) menciptakan suasana yang berbeda bagi persepsi manusia,ÔÇØ tutur Inka.