Pola makan menjadi salah satu aspek gaya hidup krusial yang memengaruhi kondisi kesehatan tubuh. Pemilihan jenis asupan yang keliru berpotensi memicu perkembangan penyakit kompleks, termasuk kanker.
Faktor risiko yang memicu penyakit berbahaya ini pada orang dewasa mayoritas bersumber dari kebiasaan hidup dan kondisi lingkungan. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Detik Health, pemahaman terhadap faktor risiko sangat penting agar langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini.
"95 faktor persen risiko kanker itu dari lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, maupun hal-hal yang masuk dalam tubuh atau kita hirup," kata Prof Aru.
Beberapa jenis asupan diketahui dapat meningkatkan risiko obesitas serta diabetes tipe 2. Dua kondisi medis tersebut berkaitan erat dengan kemunculan jenis kanker tertentu karena kandungan zat karsinogen di dalamnya.
Daging olahan menjadi salah satu asupan yang perlu diwaspadai. Produk seperti sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog umumnya telah melalui proses pengawetan dengan cara diasap, diasinkan, atau dikalengkan.
Proses pengolahan tersebut berpotensi memicu zat karsinogenik. Pengawetan menggunakan nitrit dapat menghasilkan senyawa N-nitroso, sedangkan metode pengasapan memicu pembentukan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH).
Sebuah ulasan ilmiah pada tahun 2019 menunjukkan adanya keterkaitan antara konsumsi daging merah olahan dengan peningkatan risiko kanker lambung, meskipun studi lanjutan masih terus diperlukan.
Selain daging olahan, makanan bertepung yang digoreng dalam suhu tinggi juga memicu pembentukan senyawa berbahaya bernama akrilamida. Senyawa ini kerap dijumpai pada produk olahan kentang seperti keripik dan kentang goreng.
Penelitian tahun 2020 mengungkapkan bahwa akrilamida memiliki kemampuan merusak DNA dan memicu kematian sel atau apoptosis. Konsumsi gorengan secara berlebih juga memicu peradangan kronis serta stres oksidatif akibat obesitas.
Dampak Pengolahan Suhu Tinggi dan Karbohidrat Olahan
Memasak daging terlalu lama dengan suhu ekstrem dapat menghasilkan senyawa PAH dan heterocyclic amines (HCA). Zat kimia ini memiliki sifat karsinogenik yang mampu mengubah struktur DNA di dalam sel tubuh.
Untuk meminimalkan paparan senyawa berbahaya tersebut, metode memasak dapat dialihkan menggunakan teknik alternatif. Cara yang lebih aman meliputi merebus perlahan (poaching), menggunakan panci presto, atau memanfaatkan slow cooker.
Asupan lain yang memberikan dampak tidak langsung terhadap kanker adalah makanan manis serta karbohidrat olahan. Contoh produknya meliputi roti putih, nasi putih, dan sereal dengan kandungan gula tinggi.
Jenis konsumsi ini memicu lonjakan kadar gula darah yang bermuara pada diabetes tipe 2 dan obesitas. Berdasarkan tinjauan ilmiah tahun 2019, kondisi diabetes tipe 2 berkaitan dengan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium.
Sebagai langkah alternatif, konsumsi karbohidrat dapat dialihkan pada bahan pangan yang lebih sehat. Pilihan yang disarankan antara lain roti gandum utuh, pasta gandum utuh, serta beras merah.
Faktor lain yang patut dihindari adalah konsumsi alkohol. Ketika zat tersebut masuk ke dalam tubuh, organ hati akan memecahnya menjadi asetaldehida yang bersifat karsinogenik.
Senyawa asetaldehida dapat merusak struktur DNA dan memicu stres oksidatif dalam tubuh. Dampak lainnya adalah penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, sehingga proteksi terhadap sel prakanker menjadi melemah.