Jemaah Haji Lansia Tumbang Akibat Cuaca Ekstrem di Makkah

Jemaah Haji Lansia Tumbang Akibat Cuaca Ekstrem di Makkah
Foto: Ilustrasi Jemaah Haji Lansia Tumbang Akibat Cuaca Ekstrem di Makkah.

Sejumlah jemaah haji lansia asal Indonesia dilaporkan jatuh pingsan akibat kelelahan dan paparan cuaca panas ekstrem saat menjalankan ibadah di Makkah pada Sabtu (2/5) dan Minggu (3/5). Fenomena ini terjadi akibat suhu udara yang melonjak hingga 42 derajat Celsius di kawasan Tanah Suci sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Insiden tersebut mayoritas terjadi di jalur menanjak Terminal Jabal Ka'bah dan trotoar sekitar hotel saat jemaah kembali dari umrah wajib. Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKPPJH) segera memberikan bantuan medis darurat, termasuk penggunaan kursi roda dan pendinginan suhu tubuh menggunakan air.

Kondisi fisik jemaah yang menurun drastis memicu kekhawatiran karena sebagian besar korban mengalami gejala awal heatstroke. Salah satu jemaah wanita yang ditemukan lemas di trotoar sempat menolak bantuan meskipun kondisinya cukup mengkhawatirkan karena faktor kesehatan bawaan.

"Saya ini punya tensi rendah," ujar salah satu jemaah lansia.

Tim medis di bawah koordinasi Daerah Kerja (Daker) Makkah segera melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital terhadap para jemaah yang tumbang. Mayor CKM dr Ridwan Siswanto, Kasi PKPPJH, Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah, mengonfirmasi adanya penurunan kondisi kesehatan yang signifikan pada beberapa individu.

"Kami cek tanda vitalnya, tekanan darah, kemudian cek saturasi. Saat itu sempat saturasi turun di bawah 95," jelas dr Ridwan Siswanto, Kasi PKPPJH, Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah.

Dokter Ridwan menekankan bahwa jemaah lansia masuk dalam kategori risiko tinggi yang membutuhkan pengawasan ketat baik dari petugas maupun sesama anggota jemaah. Ia juga menyoroti semangat ibadah yang tinggi namun terkadang mengabaikan keselamatan fisik jemaah.

"Mumpung di Tanah Suci, jadi ibadah terus bolak-balik sampai ke Masjidil Haram, tanpa mempertimbangkan fase Armuznanya nanti," ujar dr Ridwan Siswanto, Kasi PKPPJH, Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah.

Kekuatan fisik jemaah diharapkan dapat disimpan untuk menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang membutuhkan stamina prima. Pengaturan strategi aktivitas menjadi kunci agar jemaah tidak kehabisan energi sebelum rangkaian inti ibadah dimulai.

"Jangan sampai di sana hanya sisa tenaga. Kita harus atur strategi di situ, harus pintar strateginya," imbuh dr Ridwan Siswanto, Kasi PKPPJH, Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah.

Guna meminimalkan risiko di masa mendatang, pihak berwenang mulai mengalihkan aktivitas jemaah ke dalam ruangan hotel melalui program tausiah dan edukasi kesehatan. Sosialisasi mengenai waktu ibadah yang aman, yakni setelah subuh atau menjelang magrib, terus digencarkan kepada seluruh jemaah di tiap akomodasi.

Artikel terkait

Rekomendasi