Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengumumkan penemuan jemaah haji asal Indonesia, Muhammad Firdaus, dalam keadaan wafat di Makkah, Arab Saudi pada Jumat, 22 Mei 2026. Penemuan jemaah berusia 72 tahun dari Kloter JKG-27 ini terjadi setelah dilakukannya proses pencarian oleh tim lapangan yang berkoordinasi dengan otoritas setempat, seperti dilansir dari Investor Daily.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Haji dan Umrah RI, Moh. Hasan Afandi, menyampaikan kepastian kabar duka tersebut setelah menerima laporan dari tim di lapangan.
"Berdasarkan laporan tim di lapangan dan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi, Bapak Muhammad Firdaus diketemukan dalam keadaan wafat," ujar Hasan.
Pihak Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi segera menyampaikan belasungkawa kepada keluarga jemaah yang ditinggalkan atas musibah ini.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiÔÇÖun. Kami segenap PPIH Arab Saudi menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada almarhum, dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan," sambung Hasan.
Apresiasi dan terima kasih kemudian disampaikan oleh juru bicara kementerian kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pencarian, termasuk KJRI Jeddah dan pihak rumah sakit Arab Saudi. Sebagai bentuk tanggung jawab, pemerintah memastikan bahwa hak ibadah almarhum akan dipenuhi melalui program badal haji yang difasilitasi oleh petugas resmi.
"Pemerintah melalui PPIH Arab Saudi akan menyiapkan badal haji yang dilakukan oleh petugas haji bagi almarhum," jelas Hasan.
Selain memberikan penanganan terhadap jemaah yang wafat, kementerian memanfaatkan momentum ini untuk mengingatkan seluruh jemaah dan petugas di lapangan mengenai pentingnya solidaritas. Hasan meminta semua pihak lebih peka terhadap jemaah yang terlihat kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongannya, terutama kelompok lansia dan disabilitas.
"Bila melihat jemaah berjalan sendirian, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, segera sapa dan tanyakan kondisinya. Jika jemaah tersebut tidak mengetahui arah tujuan atau membutuhkan bantuan, antarkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau laporkan kepada petugas sektor dan kloter," imbau Hasan.
Langkah pencegahan dinilai sangat krusial agar insiden jemaah tersesat tanpa pendampingan tidak terulang kembali di Tanah Suci.
"Jangan biarkan jemaah berjalan sendiri tanpa pendampingan. Kepedulian Bapak dan Ibu sekalian sangat penting untuk mengurangi kemungkinan jemaah tersesat atau terpisah dari rombongannya," tegas Hasan.
Kementerian Haji dan Umrah juga meminta agar para jemaah aktif berkomunikasi dan tidak ragu meminta pertolongan jika menghadapi kendala selama beribadah.
"Bagi jemaah yang membutuhkan bantuan, jangan sungkan menyampaikan kepada petugas. Petugas haji Indonesia hadir untuk mendampingi, melayani, dan melindungi jemaah selama berada di Tanah Suci," pungkas Hasan.