Jasa Teman Jalan Marak Akibat Minimnya Dukungan Emosional Keluarga

Jasa Teman Jalan Marak Akibat Minimnya Dukungan Emosional Keluarga
Foto: Ilustrasi Jasa Teman Jalan Marak Akibat Minimnya Dukungan Emosional Keluarga.

Masyarakat urban di Bekasi dan sekitarnya semakin meminati jasa teman jalan pada Kamis (16/4/2026) sebagai dampak dari minimnya dukungan emosional dari keluarga. Fenomena ini muncul akibat kebutuhan individu untuk berbagi cerita di tengah kesibukan gaya hidup modern dan isolasi sosial.

Kecenderungan penggunaan layanan profesional ini dipicu oleh absennya ruang bercerita di lingkungan terdekat, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Faktor mobilitas pekerjaan yang membuat seseorang tinggal jauh dari kerabat juga memperkuat ketergantungan pada jasa tersebut.

Konselor Agustina Twinky Indrawati menjelaskan bahwa alasan utama masyarakat memanfaatkan jasa ini adalah keinginan untuk didengarkan tanpa penghakiman. Masalah ini banyak menerpa generasi muda yang memiliki aktivitas padat namun kesulitan menjalin relasi sosial yang stabil.

"Namun, ada juga yang menggunakannya karena harus tinggal jauh dari keluarga, misalnya akibat pekerjaan," ujar Agustina, Konselor.

Pakar psikologi tersebut menilai bahwa perkembangan teknologi digital secara tidak langsung mengikis interaksi langsung antarmanusia. Hal ini memicu munculnya perasaan hampa pada individu yang hanya mengandalkan gawai untuk bersosialisasi.

"Hal ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan untuk didengarkan, bersosialisasi, atau menjalin hubungan yang lebih personal, serta untuk mengatasi rasa kesepian," jelas Agustina, Konselor.

Kurangnya intensitas pertemuan fisik menciptakan celah emosional yang besar bagi masyarakat di usia produktif. Ruang kosong dalam diri anak muda menjadi semakin lebar akibat pola komunikasi yang berubah.

"Sekarang, banyak orang hanya mengandalkan jari untuk berinteraksi. Tanpa disadari, hal ini menciptakan ÔÇÿruang kosongÔÇÖ dalam diri anak muda," kata Agustina, Konselor.

Meskipun memberikan kenyamanan instan, relasi transaksional ini ditegaskan bersifat sementara. Kehadiran penyedia jasa tidak akan bisa menyamai kualitas hubungan pertemanan yang dibangun secara organik dalam jangka panjang.

"Di satu sisi, jasa ini bisa menjadi penolong untuk mengatasi rasa kesepian dan kebutuhan untuk didengarkan. Namun, karena hubungan ini hanya sementara, ÔÇÿruang kosongÔÇÖ itu tetap akan ada," ujar Agustina, Konselor.

Agustina menganalogikan layanan ini seperti cahaya yang masuk ke ruangan gelap namun akan hilang saat sumbernya bergeser. Pengguna jasa juga diingatkan mengenai risiko ketergantungan emosional yang mungkin muncul jika sesi pertemuan terus diulang.

"Ketika matahari bergeser, sinar itu akan hilang. Berbeda dengan pertemanan yang dibangun sejak awal dan dipelihara dengan baik, yang ibarat udara memenuhi ruangan tersebut," tutur Agustina, Konselor.

Ketertarikan emosional dalam hubungan singkat ini dipicu oleh pelepasan hormon tertentu di dalam otak saat seseorang merasa nyaman. Reaksi biologis tersebut membuat pengalaman menggunakan jasa terasa sangat menyenangkan bagi pengguna.

"Saat seseorang benar-benar merasa nyaman, ia cenderung akan mengulang pengalaman tersebut. Ini yang berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional," jelas Agustina, Konselor.

Dampak jangka panjang yang dikhawatirkan adalah pergeseran nilai pertemanan menjadi sekadar fungsional. Hal ini berpotensi meningkatkan sikap individualisme di mana orang merasa tidak perlu lagi menjalin kedekatan yang mendalam.

"Ketika seseorang merasa ÔÇÿklikÔÇÖ, otak melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa senang serta oksitosin yang memunculkan perasaan kedekatan," tambah Agustina, Konselor.

Guna menghindari kedekatan semu, masyarakat didorong untuk lebih berani membuka diri dan membangun relasi yang autentik di dunia nyata. Keluarga memiliki peran vital dalam memberikan fondasi dukungan emosional yang sehat.

"Dampak jangka panjangnya, orang bisa menjadi semakin individual dan merasa tidak perlu menjalin pertemanan yang mendalam karena adanya layanan yang bersifat instan," ujar Agustina, Konselor.

Langkah sederhana seperti menyapa orang di sekitar dinilai bisa menjadi awal yang baik untuk memperbaiki kualitas hubungan sosial. Upaya ini penting agar individu tidak terjebak pada kenyamanan yang hanya bersifat sesaat.

"Misalnya dengan memberi senyuman atau menyapa orang lain, serta menjalani hari dengan lebih tenang," katanya Agustina, Konselor.

Kondisi kesepian ini dirasakan oleh Febrian (26), yang mulai menggunakan jasa teman jalan pada Selasa (14/4/2026). Ia mengaku kesulitan mencari teman mengobrol karena rekan-rekannya sudah sibuk dengan urusan rumah tangga dan kepindahan domisili.

"Karena memang enggak ada yang bisa diajak. Teman-teman lama sudah sibuk dengan hidup masing-masing, sebagian sudah menikah, sebagian pindah kota," kata Febrian, Pengguna Jasa.

Meski sempat mendapatkan kelegaan sesaat, Febrian mengakui ada perasaan sepi yang kembali muncul setelah pertemuan berakhir. Momen berbagi tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan kehampaan yang ia rasakan sehari-hari.

"Setelah pulang, ada hampa lagi. Bahkan mungkin, karena baru saja merasa ditemani. Tapi juga bersyukur sempat punya momen itu," kata Febrian, Pengguna Jasa.

Artikel terkait

Rekomendasi