Jasa Raharja menyerahkan santunan duka kepada keluarga Nur Ainia Eka Rahmadhyna, karyawan KompasTV yang menjadi korban meninggal dalam kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, pada Rabu (29/4/2026) malam.
Peristiwa maut tersebut melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam. Berdasarkan data yang dilansir dari Kompas, insiden ini mengakibatkan belasan orang meninggal dunia.
Direktur Operasional Jasa Raharja Ariyandi mendatangi langsung rumah duka di Bekasi untuk menyerahkan kompensasi tersebut kepada ahli waris. Langkah ini merupakan bagian dari tanggung jawab instansi terhadap para korban kecelakaan transportasi publik.
"Hari ini, kami dari Jasa Raharja mendatangi salah satu rumah korban kecelakaan kereta api," katanya di rumah duka Ainia di Bekasi, Rabu malam.
Ariyandi menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada pihak keluarga atas musibah yang menimpa almarhumah. Pihaknya merinci total nominal santunan yang diberikan mencakup dana dari induk perusahaan dan anak usaha.
"Dari Jasa Raharja nominalnya Rp50 juta. Kemudian, Jasa Raharjaputera (anak perusahaan Jasa Raharja) itu Rp40 juta," ujar Ariyandi.
Selain memberikan santunan kepada keluarga Ainia, Ariyandi memastikan bahwa hak bagi 15 korban meninggal dunia lainnya telah diselesaikan. Jasa Raharja juga menjamin biaya perawatan bagi para korban yang mengalami luka-luka akibat benturan kedua kereta tersebut.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto memaparkan rincian terbaru mengenai jumlah korban terdampak hingga Rabu siang. Pihak kepolisian terus melakukan pembaruan data terkait kondisi para penumpang yang menjalani observasi medis.
"Kami terima hari ini per 29 April 2026 sekitar pukul 11.00 (WIB), korban total adalah 106 orang, di mana korban luka 90 orang, 44 pasien sudah pulang ke rumah, 46 pasien sedang melaksanakan observasi, meninggal dunia 16 orang," katanya dalam program Kompas Siang KompasTV, Rabu.
Saat ini, sebanyak 46 pasien masih berada di bawah penanganan tim medis untuk pemantauan lebih lanjut, sementara puluhan lainnya telah diizinkan kembali ke kediaman masing-masing.