Jam Kerja Panjang Tingkatkan Risiko Obesitas hingga 17 Persen

Jam Kerja Panjang Tingkatkan Risiko Obesitas hingga 17 Persen
Foto: Ilustrasi Jam Kerja Panjang Tingkatkan Risiko Obesitas hingga 17 Persen.

Durasi kerja yang berlebihan kini menjadi perhatian serius di kalangan medis karena berkaitan erat dengan peningkatan risiko obesitas. Berdasarkan penelitian terbaru yang dipresentasikan dalam Kongres Eropa tentang Obesitas, pola dan jam kerja harian terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kondisi kesehatan tubuh.

Data menarik menunjukkan bahwa penurunan jam kerja tahunan sebesar 1 persen saja berkorelasi dengan penurunan tingkat obesitas di negara-negara OECD sebesar 0,16 persen, seperti dilansir dari Medcom. Temuan ini menegaskan bahwa beban kerja memiliki pengaruh besar terhadap regulasi berat badan, sehingga pengelolaan waktu kerja kini dinilai sama krusialnya dengan menjaga pola makan dan berolahraga.

Sebuah studi yang melibatkan 122.000 peserta mengungkapkan bahwa individu yang bekerja lebih dari 55 jam dalam seminggu mengalami lonjakan risiko obesitas hingga 17 persen. Fenomena penambahan berat badan akibat tuntutan profesional yang tinggi ini dilaporkan paling banyak berdampak pada pria serta pekerja dengan usia yang lebih tua.

Kesibukan yang menyita seluruh waktu sering kali membuat para pekerja kesulitan menjaga konsistensi rutinitas olahraga. Durasi kerja yang panjang memicu terjadinya situasi kemiskinan waktu, yang membatasi kesempatan individu untuk berolahraga, beristirahat dengan cukup, serta mengolah makanan sehat secara mandiri.

Kondisi tersebut mendorong pekerja untuk lebih sering mengonsumsi makanan siap saji atau camilan instan yang padat kalori. Selain keterbatasan waktu, tekanan pekerjaan yang berlangsung secara terus-menerus turut memicu peningkatan produksi hormon kortisol di dalam tubuh.

Lonjakan kortisol berpotensi besar mempercepat penumpukan lemak, terutama pada area perut. Karyawan yang berada dalam kondisi kelelahan ekstrem juga cenderung lebih sulit mengendalikan impuls makan, sehingga penambahan berat badan berkembang menjadi masalah sistemik.

Langkah Praktis Menjaga Berat Badan di Tempat Kerja

Untuk mengantisipasi dampak negatif dari durasi duduk yang terlalu lama, pekerja disarankan melakukan pergerakan fisik ringan setiap 30 hingga 45 menit. Aktivitas ini bisa berupa peregangan otot atau sekadar berjalan kaki dalam durasi singkat.

"Gunakan tangga daripada lift, berjalan kaki sambil menelepon, atau berjalan-jalan sebentar setelah makan," jelas Dr Astha Dayal, dokter kandungan dan ginekolog di Rumah Sakit CK Birla, Gurugram, kepada Health Shots.

Kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut dinilai efektif dalam menstimulasi metabolisme serta menjaga stabilitas energi sepanjang hari. Selain aktif bergerak, pemenuhan nutrisi secara seimbang melalui konsumsi protein, serat, dan lemak sehat juga sangat dianjurkan untuk menghindari kebiasaan makan berlebih.

Guna menekan tingkat stres, pekerja dapat menerapkan metode relaksasi seperti yoga, meditasi, atau latihan pernapasan dalam. Upayakan pula untuk memenuhi kebutuhan tidur berkualitas selama 7 hingga 8 jam setiap malam demi menjaga keseimbangan hormon tubuh.

Faktor usia juga menjadi tantangan tersendiri mengingat metabolisme tubuh akan melambat secara alami seiring bertambahnya umur seseorang. Ketika penurunan fungsi metabolisme alami tersebut berjalan beriringan dengan stres akibat beban kerja yang berlebih, maka risiko gangguan berat badan akan menjadi jauh lebih tinggi.

Artikel terkait

Rekomendasi