Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan menggunakan satelit mata-mata buatan Tiongkok untuk menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah secara presisi pada pertengahan Maret 2026. Hal ini terungkap melalui dokumen militer yang bocor dan laporan Financial Times sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Satelit bernama TEE-01B yang diproduksi oleh perusahaan Earth Eye Co asal Beijing ini diakuisisi Iran pada akhir tahun 2024. Melalui akses ke stasiun bumi komersial Emposat, IRGC memantau koordinat strategis di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania sebelum serangan drone dilakukan.
Analisis orbit menunjukkan bahwa pengambilan gambar dilakukan pada 13 hingga 15 Maret 2026. Pada tanggal 14 Maret, Presiden AS Donald Trump telah memberikan konfirmasi resmi bahwa sejumlah pesawat militer Amerika Serikat di pangkalan tersebut terkena dampak serangan udara Iran.
Pakar dari Paris Institute of Political Studies, Nicole Grajewski, memberikan pandangan mengenai penggunaan teknologi ruang angkasa ini oleh pihak Teheran. Ia menilai pengoperasian satelit tersebut murni untuk kepentingan operasi tempur IRGC.
"Satelit ini jelas digunakan untuk tujuan militer, karena dioperasikan oleh Angkatan Dirgantara IRGC dan bukan oleh program luar angkasa sipil Iran," kata Nicole Grajewski, pakar di Paris Institute of Political Studies.
Grajewski menambahkan bahwa bantuan teknologi dari pihak luar sangat krusial bagi Iran untuk memetakan kekuatan lawan di lapangan. Hal ini mencakup evaluasi kerusakan pascaserangan yang telah diluncurkan.
"Iran sangat membutuhkan kemampuan yang disediakan oleh pihak asing ini selama perang berlangsung, karena ini memungkinkan IRGC untuk mengidentifikasi target lebih awal dan mengevaluasi tingkat keberhasilan serangannya," tambahnya.
Pemerintah Tiongkok segera memberikan bantahan resmi atas temuan yang menyebutkan keterlibatan teknologi mereka dalam serangan terhadap aset militer Amerika Serikat tersebut. Penegasan ini disampaikan menyusul laporan yang dipublikasikan oleh Financial Times.
"laporan mengenai Iran yang menggunakan satelit mereka untuk mengarahkan serangan terhadap target-target AS adalah tidak benar," kata Kementerian Luar Negeri China kepada Reuters.
Selain masalah satelit, intelijen Amerika Serikat juga mengindikasikan adanya potensi pengiriman sistem pertahanan udara baru dari Beijing ke Teheran. Sistem yang dimaksud adalah rudal antipesawat panggul (MANPADS) yang diprediksi akan tiba dalam beberapa pekan mendatang.
Pihak perwakilan diplomatik Tiongkok di Amerika Serikat menepis informasi intelijen tersebut. Mereka menyatakan tidak ada dukungan persenjataan yang diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik saat ini.
"China tak pernah memasok senjata ke pihak mana pun yang berkonflik, informasi dimaksud adalah tidak benar," kata jubir Kedubes China di Washington.