Iran Gali Kembali Pangkalan Rudal Bawah Tanah Saat Masa Gencatan Senjata

Iran Gali Kembali Pangkalan Rudal Bawah Tanah Saat Masa Gencatan Senjata
Foto: Ilustrasi Iran Gali Kembali Pangkalan Rudal Bawah Tanah Saat Masa Gencatan Senjata.

Pemerintah Iran terpantau memanfaatkan masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat untuk menggali kembali pangkalan rudal bawah tanah yang hancur pada Jumat, 10 April 2026. Aktivitas pembersihan puing dan pengerukan reruntuhan ini terdeteksi melalui sejumlah citra satelit terbaru di beberapa titik strategis.

Sejumlah truk dan alat berat dilaporkan tiba di reruntuhan pangkalan militer Iran di dekat Khomeyn dan Tabriz, dua lokasi yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara. Para pekerja terlihat membersihkan akses menuju terowongan bawah tanah dan mengangkut material reruntuhan menggunakan truk sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Fokus pekerjaan tersebut diduga berada pada pintu masuk fasilitas penyimpanan yang sempat tertutup selama periode peperangan sebelumnya. Kondisi ini sebelumnya sempat menghambat kemampuan Iran dalam meluncurkan proyektil karena peluncur rudal terjebak di bawah tanah.

Laporan intelijen Amerika Serikat mengonfirmasi adanya pergerakan agen-agen Iran dalam mengaktifkan kembali bunker dan persediaan persenjataan mereka. Media asal Israel, Haaretz, turut melaporkan penggunaan buldoser untuk menyelamatkan peluncur rudal dari dalam bunker bawah tanah yang terkubur.

Data dari Pentagon dan Gedung Putih menunjukkan bahwa pasukan koalisi telah menyerang sekitar 13.000 target di wilayah Iran, termasuk lebih dari 450 fasilitas penyimpanan rudal balistik. Meski demikian, otoritas setempat memperkirakan sekitar separuh dari total peluncur rudal balistik milik Iran masih dalam kondisi utuh.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat memberikan penilaian mengenai status kekuatan militer Iran yang dianggap telah mengalami penurunan kapasitas secara signifikan.

"Kalian tak memiliki industri pertahanan, tak ada kemampuan memulihkan kapasitas ofensif maupun defensif kalian," cetus Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS.

Penegasan tersebut disampaikan meskipun Hegseth mengakui adanya upaya Iran dalam menggali sisa-isisa peluncur rudal dari reruntuhan. Ia menyatakan bahwa Iran kini kehilangan kapasitas untuk memproduksi persenjataan baru guna memulihkan kekuatan militernya secara penuh.

Selain kekuatan rudal, Iran dilaporkan masih memiliki ribuan drone serang yang tersimpan di gudang persenjataan serta akses pemantauan militer. Kemampuan pengintaian Iran disebut meningkat setelah mendapatkan akses satelit dari China pada akhir 2024 untuk memantau pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Data satelit tersebut diduga digunakan untuk memantau Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi serta fasilitas militer di Yordania dan Bahrain sebelum terjadi serangan pada Maret lalu. Namun, pihak berwenang China membantah keterlibatan mereka dalam penyediaan data intelijen tersebut.

"Baru-baru ini, beberapa pihak gemar memalsukan rumor dan secara jahat mengaitkannya dengan China," sebut Kementerian Luar Negeri China.

Pemerintah China menegaskan bahwa laporan mengenai penyediaan akses satelit tersebut merupakan informasi yang tidak berdasar. Hingga saat ini, aktivitas pemulihan di pangkalan-pangkalan rudal Iran terus dipantau oleh otoritas internasional selama masa gencatan senjata berlangsung.

Artikel terkait

Rekomendasi