PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengalokasikan investasi tahap awal senilai Rp45,5 miliar untuk pengadaan alat berat berbasis listrik yang terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan. Langkah ini dilakukan perusahaan untuk memperkuat efisiensi sekaligus menekan emisi karbon pada sektor logistik batubara di Indonesia.
Sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Jumat (15/5/2026), dana tersebut digunakan untuk memesan 10 unit Electric Dump Truck XCMG, satu unit Electric Reach Stacker HELI, dan satu unit Electric Forklift. Seluruh armada dijadwalkan mulai memperkuat operasional perseroan pada kuartal III-2026.
Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menjelaskan bahwa pesanan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman melalui modernisasi armada. Perusahaan menargetkan penggunaan teknologi ini dapat meminimalkan risiko kecelakaan kerja secara signifikan.
"Dengan implementasi strategi ini, kami yakin dapat mendukung RMKE mengurangi kecelakaan kerja dengan target zero fatality sambil secara konsisten mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui biaya listrik yang lebih efisien," ujar Vincent Saputra, Direktur Utama RMKE.
Guna menunjang operasional unit listrik tersebut, manajemen RMKE telah membangun gardu induk listrik khusus berkapasitas 3,8 MW di Stasiun Simpang dan Pelabuhan Keramasan. Infrastruktur pengisian daya ini direncanakan dapat dikembangkan hingga kapasitas 10 MW di masa mendatang.
Selain sistem kelistrikan, armada baru ini dilengkapi fitur keamanan pintar berbasis AI seperti automatic steering deceleration dan pemantauan kinerja secara real-time. Penggunaan teknologi ini merupakan fondasi perusahaan dalam transisi menuju logistik berbasis energi bersih yang lebih aman bagi pekerja.
Berdasarkan studi kelayakan perusahaan, efisiensi biaya operasional alat berat listrik jauh lebih rendah dibandingkan unit diesel. Biaya operasional untuk reach stacker listrik tercatat hanya 18 persen, sementara truk listrik berada pada kisaran 39 persen dari biaya alat berbasis bahan bakar fosil.
Data internal menunjukkan potensi penghematan mencapai Rp0,8 miliar per unit setiap tahun untuk reach stacker dan Rp0,38 miliar untuk truk listrik. Secara lingkungan, satu unit reach stacker listrik diklaim mampu mengurangi emisi karbon hingga 180 ton per tahun di area operasional.