Gas Air Mata Picu Desak-desakan Maut di Citadelle Laferriere Haiti

Gas Air Mata Picu Desak-desakan Maut di Citadelle Laferriere Haiti
Foto: Ilustrasi Gas Air Mata Picu Desak-desakan Maut di Citadelle Laferriere Haiti.

Sebanyak 25 orang dilaporkan meninggal dunia akibat insiden desak-desakan di situs Warisan Dunia UNESCO, Citadelle Laferriere, Haiti, pada Sabtu, 11 April 2026. Tragedi ini dipicu oleh penggunaan gas air mata yang ditembakkan petugas untuk membubarkan kerumunan massa saat hujan deras melanda area tersebut.

Dilansir dari Detik Travel, mantan Direktur Badan Perlindungan Warisan Nasional (ISPAN), Jean-Herold Perard, menyatakan bahwa kepanikan massa muncul setelah aparat keamanan melepas tembakan peringatan dan gas air mata. Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.00 waktu setempat ketika ribuan pengunjung mencoba masuk secara paksa untuk berteduh.

Kericuhan bermula saat petugas balai kota berupaya mengumpulkan uang hasil penjualan tiket masuk yang mencapai sekitar 6.000 USD dari 3.000 pengunjung. Untuk mempermudah proses pengambilan uang, petugas menutup salah satu pintu akses sehingga penumpukan massa tidak terhindarkan di gerbang yang tersisa.

"Orang-orang saling berdesakan dan beberapa meninggal karena kehabisan napas, terutama setelah gas air mata ditembakkan," kata Perard, mengutip kesaksian warga di lokasi kejadian. Penggunaan gas air mata tersebut diduga dilakukan oleh polisi dari Unit Departemen Pemeliharaan Ketertiban (UDMO).

Kepolisian Nasional Haiti (PNH) telah mengambil tindakan dengan menahan tujuh orang yang terdiri dari lima petugas keamanan balai kota dan dua pegawai ISPAN. Hingga saat ini, penyelidikan internal masih terus dilakukan untuk memastikan siapa yang memerintahkan penggunaan kekuatan berlebih di lokasi wisata bersejarah tersebut.

Wali Kota Milot, Wesner Joseph, membantah pihaknya memberikan izin atas acara yang mengundang kerumunan besar tersebut. Ia menyoroti minimnya personel keamanan di lapangan yang hanya terdiri dari 20 polisi dan 10 petugas keamanan untuk menangani ribuan orang yang hadir sejak pagi hari.

Kritik tajam datang dari Wali Kota Saint-Raphael, Gelin Robert Junior, yang menyebut pengelolaan situs oleh balai kota tidak profesional. "Seharusnya kegiatan ini tidak pernah diizinkan. Balai kota bertanggung jawab atas kematian anggota keluarga saya," tegas Gelin menanggapi insiden mematikan itu.

Situs Citadelle Laferriere yang dibangun sejak 1820 oleh Raja Henri Christophe memang kerap dipadati pengunjung setiap bulan April untuk memperingati hari jadinya. Pada hari kejadian, jumlah warga yang datang dilaporkan melampaui kapasitas normal, bahkan beberapa pengunjung sudah mengeluh sesak napas jauh sebelum insiden maut terjadi.

Artikel terkait

Rekomendasi