Inggris dan Prancis memimpin pertemuan dengan perwakilan militer dari sedikitnya 40 negara pada Jumat (24/4/2026) guna membahas strategi pembukaan kembali Selat Hormuz. Upaya kolektif ini dilakukan untuk melindungi kebebasan navigasi yang terganggu akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Sebagaimana dilansir dari Kompas, koordinasi lintas negara tersebut bertujuan merumuskan misi pengamanan di jalur perdagangan minyak dunia tersebut. Anton Aliabbas, Pengamat Militer dari CIDE, memberikan pandangannya terkait kondisi di lapangan yang dipicu oleh tekanan politik luar negeri.
Anton menilai bahwa tindakan pemblokiran oleh Teheran merupakan dampak langsung dari sikap Washington yang dianggap mengganggu kepentingan mereka. Potensi peningkatan eskalasi konflik disebut tetap terbuka apabila pihak Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil opsi kekuatan militer.
ÔÇ£Sekalipun operasi defensif, apakah hanya memukul mundur atau disertai retaliasi ke instalasi minyak Iran, itu yang diharapkan AS. Ketika kita bicara Iran, ini adalah imbas dari sikap AS. Iran melakukan blockade karena mereka diganggu AS,ÔÇØ kata Anton Aliabbas, Pengamat Militer CIDE.
Dalam program Sapa Indonesia Pagi tersebut, Anton juga menekankan bahwa status operasi saat ini masih menjadi perhatian krusial. Sementara itu, pihak lain melihat bahwa pendekatan Eropa masih mengedepankan cara-cara yang bersifat menahan diri.
Pengamat Senior Timur Tengah, Musthafa Abdul Rahman, berpendapat bahwa strategi yang diusung oleh Inggris dan Prancis sejauh ini masih dalam koridor defensif. Ia menyatakan bahwa pengerahan pasukan militer secara penuh belum menjadi pilihan utama selama ruang negosiasi masih ada.