BPS Catat Inflasi Bulanan Indonesia Melandai ke Level 0,13 Persen

BPS Catat Inflasi Bulanan Indonesia Melandai ke Level 0,13 Persen
Foto: Ilustrasi BPS Catat Inflasi Bulanan Indonesia Melandai ke Level 0,13 Persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi bulanan Indonesia pada April 2026 melandai ke angka 0,13 persen, turun signifikan dibandingkan posisi Maret 2026 yang sempat menyentuh 0,41 persen pada Senin (4/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh normalisasi permintaan pasca-momen Ramadan dan Idulfitri.

Data tersebut menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 110,95 pada Maret menjadi 111,09 pada April. Dilansir dari Ekonomi, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono memaparkan rincian tersebut dalam rilis resmi pemerintah.

"Pada April 2026 terjadi inflasi sebesar 0,13% secara bulanan atau month to month, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026," ujar Ateng dalam rilis berita resmi statistik, Senin (4/5/2026).

Penyumbang inflasi terbesar berasal dari sektor transportasi yang mengalami kenaikan 0,99 persen dengan andil inflasi sebesar 0,12 persen. Kenaikan tarif angkutan udara menyumbang 0,11 persen, sementara bensin berkontribusi sebesar 0,02 persen.

Komoditas pangan juga turut memberi andil terhadap kenaikan harga, di antaranya minyak goreng sebesar 0,05 persen dan tomat 0,03 persen. Selain itu, komoditas beras serta nasi dengan lauk masing-masing menyumbang 0,02 persen pada periode yang sama.

Kepala ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede memberikan pandangan mengenai fenomena melandainya harga-harga kebutuhan tersebut. Josua menilai pergerakan ini selaras dengan berakhirnya tekanan musiman dari hari raya keagamaan.

"Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri yang sudah terjadi penuh pada Maret, sehingga tekanan harga pangan, transportasi, pakaian, dan kebutuhan hari raya mulai mereda pada April," terang Josua kepada Bisnis, Minggu (3/5/2026).

Faktor lain yang membantu melandainya inflasi pada April adalah efek basis rendah dari harga tahun sebelumnya yang mulai berkurang. Hal ini berkaitan dengan kebijakan diskon tarif listrik yang diberlakukan pemerintah pada awal tahun 2025.

"Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri yang sudah terjadi penuh pada Maret, sehingga tekanan harga pangan, transportasi, pakaian, dan kebutuhan hari raya mulai mereda pada April," terang Josua kepada Bisnis, Minggu (3/5/2026).

Josua juga memproyeksikan inflasi inti akan ikut melandai ke posisi 2,31 persen dari sebelumnya 2,52 persen pada bulan sebelumnya. Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tetap mewaspadai risiko kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Jadi, gambaran inflasi April adalah inflasi umum menurun, tetapi risiko ke depan tetap perlu diwaspadai karena pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi dapat menambah tekanan biaya produksi, transportasi, dan subsidi energi," terangnya.

Artikel terkait

Rekomendasi