Pemerintah Indonesia menyatakan penyesalan atas kebuntuan perundingan maraton antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Pakistan pada Minggu (12/4/2026). Kegagalan mencapai kesepakatan tersebut dinilai dapat memengaruhi stabilitas global di tengah upaya penghentian konflik antar kedua negara.
Data yang dihimpun dilansir dari Nasional menyebutkan bahwa meskipun hasil akhir belum tercapai, Indonesia tetap memberikan apresiasi terhadap peran Pakistan sebagai fasilitator dialog. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Yvonne Mewengkang menyampaikan posisi resmi pemerintah dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (16/4/2026).
ÔÇ£Indonesia menyesalkan belum tercapainya kesepakatan dalam perundingan antara AS dan Iran, terlepas tentunya dari kerja keras yang dilakukan oleh Pakistan dalam memfasilitasi dialog antara kedua belah pihak,ÔÇØ kata Yvonne Mewengkang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu).
Penegasan mengenai pentingnya kelanjutan dialog juga disampaikan oleh pihak kementerian sebagai langkah awal yang krusial. Indonesia mendorong agar kedua belah pihak tidak melakukan tindakan provokatif demi menjaga ketenangan internasional.
ÔÇ£Kita menyerukan kepada seluruh pihak tentunya di tengah proses ini untuk terus menahan diri dan tetap mengedepankan selalu dialog dan diplomasi dan menghindari meluasnya efek konflik terhadap stabilitas dan perdamaian dunia,ÔÇØ ujar Yvonne Mewengkang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu).
Pemerintah Indonesia juga menekankan urgensi kepatuhan terhadap hukum internasional dan piagam PBB dalam penyelesaian sengketa ini. Yvonne memastikan bahwa dukungan terhadap jalur diplomasi akan terus diberikan secara konsisten.
ÔÇ£Dan kita menyatakan kembali komitmen untuk terus mendukung upaya-upaya diplomasi yang dilakukan terkait isu ini,ÔÇØ ucap Yvonne Mewengkang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu).
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, sebelumnya telah mengingatkan kedua negara untuk tetap memegang teguh komitmen gencatan senjata yang ada. Pakistan menyatakan kesiapannya untuk terus menjadi penengah dalam pertemuan-pertemuan berikutnya.
"Sangat penting bagi semua pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata," kata Ishaq Dar, Menteri Luar Negeri Pakistan.
Ishaq Dar menambahkan bahwa negaranya tidak akan berhenti dalam mengupayakan mediasi bagi kepentingan kedua negara yang berseteru tersebut di masa depan.
"Pakistan telah dan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Iran dan AS di masa mendatang," sambung Ishaq Dar, Menteri Luar Negeri Pakistan.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengungkapkan bahwa titik buntu utama dalam perundingan tersebut berkaitan dengan jaminan keamanan nuklir. AS menuntut komitmen jangka panjang dari Teheran agar tidak memproduksi senjata pemusnah massal.
"Faktanya, kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir," ujar JD Vance, Wakil Presiden AS.
Vance menyayangkan belum adanya tanda-tanda kesepakatan mengenai parameter nuklir tersebut meskipun diskusi telah dilakukan secara mendalam.
"Apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihat hal itu. Kami berharap akan melihatnya," sambung JD Vance, Wakil Presiden AS.
Dalam keterangannya, Vance juga mengklaim bahwa delegasi Amerika Serikat telah berupaya menunjukkan sikap fleksibel sesuai arahan dari Presiden Donald Trump.
"I rasa kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden memberi tahu kami, 'Kalian harus datang ke sini dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan'," tutur JD Vance, Wakil Presiden AS.
Namun, upaya tersebut diakui belum mampu membuahkan kemajuan signifikan dalam pertemuan yang digelar di Islamabad tersebut.
"Kami sudah melakukan itu dan sayangnya kami tidak berhasil mencapai kemajuan," sambung JD Vance, Wakil Presiden AS.
Di sisi lain, delegasi Iran melalui sumber yang dekat dengan mereka menuding Amerika Serikat memberikan tuntutan yang tidak masuk akal. Iran menganggap persyaratan yang diajukan AS merupakan bentuk kompensasi atas ketidakmampuan mereka selama masa perang.
"Melalui negosiasi, AS menuntut segala sesuatu yang tidak mereka dapatkan selama perang," kata sumber, delegasi Iran.
Sumber tersebut juga menyatakan bahwa Iran tidak dapat menerima persyaratan mengenai penggunaan energi nuklir damai dan akses terhadap Selat Hormuz.
ÔÇ£AS membutuhkan negosiasi untuk memulihkan muka mereka yang hilang di arena internasional dan tidak bersedia menurunkan ekspektasi mereka, meskipun mengalami kekalahan dan kebuntuan dalam perang dengan Iran,ÔÇØ jelas sumber, delegasi Iran.