Indonesia kini menempati peringkat ketiga dalam daftar prevalensi obesitas tertinggi di wilayah Asia Tenggara menurut data World Obesity Atlas tahun 2022. Fenomena ini memicu kekhawatiran terkait kesehatan masyarakat yang lebih luas di tanah air.
Dikutip dari Suara, tingginya angka penderita obesitas tersebut sering kali berkaitan erat dengan fenomena food noise. Kondisi ini merupakan gangguan berupa dorongan pikiran berlebih terhadap makanan yang dipicu oleh mekanisme neuroendokrin dalam tubuh.
Berbeda dengan rasa lapar yang merupakan sinyal alami, food noise adalah gangguan pikiran yang terus-menerus muncul meskipun tubuh tidak membutuhkan asupan energi. Hal ini mencerminkan cara otak merespons faktor lingkungan, stres, serta kebiasaan hidup.
Kondisi medis ini tidak hanya mengakibatkan pola makan berlebih, tetapi juga memberikan beban psikologis yang signifikan. Pasien sering kali merasakan kecemasan serta rasa bersalah yang mendalam akibat kesulitan menjaga konsistensi pola makan.
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Iflan Nauval menjelaskan bahwa tantangan obesitas bukan sekadar masalah disiplin individu. Menurutnya, terdapat faktor biologi tubuh yang sangat kompleks di baliknya.
"Dalam pendekatan ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi (complementary) untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja. Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien," kata Iflan Nauval.
Obesitas sering kali melibatkan gangguan pada sistem neuroendokrin yang mengatur keseimbangan rasa lapar dan kenyang. Oleh karena itu, penanganan yang hanya berfokus pada perubahan perilaku dianggap belum cukup untuk kasus yang sudah berat.
Inovasi Medis dan Pendekatan Komprehensif
Paradigma penanganan obesitas kini mulai bergeser dari sekadar pembatasan kalori menuju pendekatan berbasis biologi. Salah satu inovasi yang digunakan adalah terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) untuk mengatur sinyal lapar di pusat nafsu makan otak.
Terapi ini bekerja pada jalur biologis untuk meningkatkan rasa kenyang serta meredakan dorongan makan berlebih, termasuk mengatasi food noise. Secara klinis, metode ini terbukti membantu pasien dalam mengontrol asupan kalori secara lebih efektif.
Berdasarkan data klinis, penggunaan terapi GLP-1 RA dari Novo Nordisk menunjukkan hasil yang signifikan dalam penurunan berat badan. Tercatat 1 dari 3 pasien mampu kehilangan lebih dari 20% berat badan mereka melalui pendampingan medis ini.
Selain menurunkan massa lemak, pendekatan ini mengutamakan kualitas penurunan berat badan dengan tetap mempertahankan massa otot. Terapi medis tersebut juga memiliki potensi untuk menekan risiko penyakit kardiovaskular hingga mencapai angka 20%.
"Penting bagi individu dengan obesitas untuk beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional dalam mengelola berat badan. Dengan memahami bahwa obesitas adalah penyakit kompleks, kita dapat mendorong penanganan yang lebih tepat dan berbasis sains," ujar Riyanny Meisha Tarliman selaku Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia.