KH Muhammad Qosim Toifur Mawardi mengijazahkan amalan zikir fidak sebanyak 70.000 kali untuk dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia dalam sebuah pengajian di Purworejo pada Minggu (19/4/2026). Amalan ini bertujuan sebagai bentuk permohonan doa demi meringankan beban ahli kubur.
Dilansir dari Cahaya, praktik spiritual ini umumnya dilakukan pada hari-hari awal pascakematian seseorang sebagai wujud kepedulian keluarga. KH Qosim menjelaskan bahwa bacaan kalimat tauhid tersebut merupakan perantara atau wasilah untuk memohon keselamatan bagi jenazah yang wafat dalam keadaan Islam.
"Dzikir fidak ini dibaca sebanyak 70 ribu kali. Insya Allah menjadi wasilah keselamatan bagi orang yang sudah meninggal, dengan catatan meninggal dalam keadaan Islam," ujar KH Muhammad Qosim Toifur Mawardi.
Penegasan diberikan bahwa ijazah zikir ini bukanlah jaminan mutlak atas nasib seseorang di akhirat, melainkan ikhtiar batin manusia kepada Tuhan. KH Qosim menilai doa dari kerabat yang masih hidup memiliki nilai manfaat yang besar bagi mereka yang sudah tiada.
Pelaksanaan zikir tersebut dianjurkan untuk dilakukan secara kolektif dengan jumlah peserta minimal 40 orang guna menjaga kekhusyukan. Metode berjamaah dianggap lebih efektif untuk mencegah rasa lelah serta meningkatkan konsentrasi jemaah selama proses pembacaan zikir berlangsung.
"Kalau dilakukan bersama-sama, selain lebih ringan juga lebih khusyuk. Minimal 40 orang, karena setiap 40 orang berkumpul ada malaikatnya," jelas KH Muhammad Qosim Toifur Mawardi.
Kiai asal Purworejo tersebut mengingatkan bahwa meski doa orang lain sangat membantu, setiap individu tetap harus mempersiapkan bekal pribadi selama masih hidup. Amal ibadah mandiri disebut tetap menjadi fondasi utama bagi keselamatan setiap manusia.
"Doa dari orang lain itu penting, tetapi yang paling utama adalah amal kita sendiri ketika masih hidup," kata KH Muhammad Qosim Toifur Mawardi.
Selain dimensi ibadah, kegiatan zikir bersama ini dipandang sebagai sarana penguat ikatan sosial dan silaturahmi antarwarga. Tradisi keagamaan ini diharapkan terus hidup sebagai bagian dari identitas spiritual masyarakat dalam mendoakan keluarga atau kerabat mereka.