IHSG Melemah Imbas Pembekuan Rebalancing Saham Indonesia di MSCI

IHSG Melemah Imbas Pembekuan Rebalancing Saham Indonesia di MSCI
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah Imbas Pembekuan Rebalancing Saham Indonesia di MSCI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan di zona merah sejak pembukaan perdagangan pada Selasa (21/4/2026) akibat sentimen negatif dari pasar global. Penurunan ini terjadi setelah muncul pengumuman mengenai pembekuan rebalancing saham Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Hingga pembukaan sesi II, indeks terpantau melemah 0,59 persen ke posisi 7.549,40, meski sempat menyentuh titik terendah di level 7.511,82 pada pagi hari. Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menyatakan bahwa kebijakan MSCI tersebut memicu tekanan jual namun dampaknya sudah mulai diantisipasi oleh para pelaku pasar.

"Respon IHSG yang relatif tidak signifikan menandakan investor, terutama asing, sudah mengantisipasi sejak pengumuman awal. Tekanan jual kemungkinan akan lebih terfokus pada saham-saham dengan isu seperti free float rendah atau likuiditas tipis, bukan ke seluruh market," jelas Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.

Koreksi yang terjadi dinilai tidak sedalam periode sebelumnya karena investor cenderung lebih tenang menghadapi perubahan kebijakan tersebut. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati bahwa otoritas pasar modal mulai melakukan langkah-langkah perbaikan guna memenuhi kriteria internasional.

"Mengapa koreksinya sudah tidak sedalam saat pertama kali, karena kami cermati sudah mulai ada pemenuhan syarat dan reformasi pasar modal yang dilakukan oleh SRO, sehingga investor sudah tidak terlalu panik dan masih memantau perkembangan selanjutnya," ungkap Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.

Meskipun ada pembekuan rebalancing, posisi Indonesia di kancah global masih tertolong karena MSCI batal menurunkan status pasar modal dalam negeri menjadi Frontier Market. Saat ini, pasar modal nasional tetap bertahan dalam kategori Emerging Market meskipun tantangan likuiditas dan kebijakan free float masih menjadi sorotan utama bagi manajer investasi luar negeri.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan peringatan mengenai potensi penurunan bobot saham Indonesia di masa mendatang. Ia menyoroti tren net sell asing yang mencapai Rp 39,47 triliun sepanjang tahun 2026 sebagai dampak dari pembatasan eksposur oleh pengelola dana global.

"Takutnya ini bobot Indonesia di MSCI emerging market bisa stagnan atau cenderung turun. Tentunya juga manager investasi global juga cenderung membatasi eksposur mereka ke market Indonesia, sehingga IHSG kita jarang sekali net buy asing," jelas Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Artikel terkait

Rekomendasi