Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis (30/4/2026). Berdasarkan data yang dikutip dari Market, indeks terkoreksi sebesar 0,87 persen atau turun 61,55 poin ke level 7.039,67.
Pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menyentuh posisi terendah di angka 7.022,37. Kondisi pasar menunjukkan tekanan jual yang cukup tinggi dengan tercatatnya 405 saham yang mengalami penurunan nilai.
Aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia dipastikan akan berhenti sementara pada Jumat (1/5/2026). Libur bursa tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day.
Setelah masa libur tersebut, seluruh aktivitas perdagangan saham di BEI akan diaktifkan kembali pada Senin (4/5/2026). Saat ini, total kapitalisasi pasar di bursa domestik berada pada angka Rp12.563,35 triliun.
Sejumlah saham dengan kapitalisasi besar (big caps) menjadi beban utama bagi pergerakan indeks. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) merosot 3,20 persen menjadi Rp1.665, diikuti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang turun 2,17 persen ke Rp11.250.
Penurunan juga melanda saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) sebesar 1,90 persen dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang melemah 1,89 persen. Saham perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) pun turut terkoreksi 1,67 persen.
Meskipun mayoritas saham melemah, terdapat beberapa emiten yang mencetak pertumbuhan signifikan. PT Prasidha Aneka Niaga Tbk. (PSDN) melesat 29,90 persen ke Rp252, sementara PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) menguat 24,18 persen ke Rp226.
Tim riset Phintraco Sekuritas memberikan analisis teknikal bahwa pergerakan IHSG pada sesi sebelumnya menunjukkan indikator death cross antara MA5 dan MA20. Hal ini dipertegas dengan pelebaran negatif pada histogram MACD.
"Investor akan menantikan hasil pertemuan The Fed dan komentar Chairman The Fed yang akan dirilis pada Rabu waktu AS," tulis tim riset Phintraco Sekuritas dalam laporannya, Kamis (30/4/2026).
Dari sisi sentimen global, fluktuasi indeks dipengaruhi oleh ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan inflasi energi. Pasar juga tengah mencermati data ekonomi AS seperti indeks harga PCE dan PDB kuartal I/2026.
"Dari domestik, investor mencermati earning season kuartal I/2026 dan maraknya aksi korporasi emiten termasuk dividen dan rights issue," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Meskipun indikator teknikal berada di zona jenuh jual (oversold), pasar tetap berhati-hati menunggu rilis data ekonomi penting. Fokus pemodal dalam negeri tertahan pada rilis laporan keuangan periode tiga bulan pertama tahun 2026.