Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan hingga meninggalkan level psikologis 7.100 pada perdagangan Selasa (28/4/2026) seiring sikap waspada investor terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi saat pasar menantikan hasil pertemuan bank sentral AS di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 10.20 WIB menunjukkan IHSG terkoreksi 0,67 persen ke posisi 7.058,85 sebagaimana dilansir dari Bisnis. Indeks komposit sebenarnya sempat menguat ke level 7.128,46 pada pembukaan pagi hari sebelum akhirnya berbalik ke zona merah akibat tekanan jual.
Sentimen negatif utama berasal dari antisipasi pelaku pasar terhadap rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (29/4/2026) waktu AS. Pertemuan tersebut menjadi perhatian khusus karena merupakan momen terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed.
Bank sentral AS diprediksi tetap mempertahankan suku bunga acuan pada rentang 3,50 persen hingga 3,75 persen. Langkah ini diperkirakan diambil setelah inflasi AS kembali meningkat menjadi 3,3 persen pada Maret, yang membuat pasar sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter mendatang.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menjelaskan bahwa kegagalan indeks bertahan di atas level 7.250 secara teknikal memicu risiko koreksi lebih lanjut. Selain itu, aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp2,01 triliun pada perdagangan sebelumnya turut menambah tekanan pada saham-saham perbankan besar.
"IHSG berpotensi koreksi kembali hari ini setelah gagal break di atas 7.250. Kami memproyeksikan rentang support berada di level 6.900ÔÇô7.000, sementara resistance di level 7.200ÔÇô7.250," ujar Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang memicu sikap tunggu dan lihat (wait and see). Meski indeks Wall Street sempat mencetak rekor, penguatannya tertahan oleh dinamika politik internasional tersebut.
"Fanny menuturkan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini juga membatalkan pengiriman utusan khusus untuk gencatan senjata, dan memilih jalur komunikasi telepon langsung, yang menambah ketidakpastian pasar global," ujar Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas.